Gmail dan Facebook Tumbang, Momentum Media Sosial Karya Anak Bangsa

Jumat, 15 Maret 2019, 10:30 WIB | Laporan: Widya Victoria

Pratama Persadha/Cissrec.org

RMOL. Pengguna Facebook dan Instagram di tanah air mengalami permasalahan dalam pengiriman konten ke platform. Menyusul kemudian WhatsApp yang juga mengalami permasalahan yang sama.

Di Twitter, tagar #instagramdown masih menduduki trending topic. Tidak jarang beberapa netizen di antaranya membuat meme dan lelucon terkait gangguan ini.

Merujuk laman Downdetector, beberapa problem yang dialami oleh pengguna Instagram adalah masalah news feed (39 persen), log in (35 persen) dan masalah website (24 persen).
Partai Berkarya

Sementara masalah yang dialami pengguna Facebook adalah log in (34persen), news feed (33 persen) dan total blackout (31 persen).

Facebook sendiri melalui akun twitter resminya menjelaskan bahwa kelumpuhan yang terjadi pada situsnya bukan disebabkan oleh serangan hacker atau DDoS (Distributed Denial of Service). Melainkan karena pihaknya sedang mengalami gangguan bersifat internal.

Facebook dan Instagram mengkonfirmasi sudah mengetahui masalah tumbangnya layanan mereka dan sedang diperbaiki.

"Sebenarnya kejadian seperti ini bukanlah hal yang pertama kali dialami oleh Facebook," kata Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi CISSReC, Pratama Persadha kepada redaksi.

Catatan dia, Facebook juga mengalami permasalahan serupa pada tahun 2008, namun hingga kini tidak diketahui penyebabnya.

Kemudian pada tahun 2010, platform Facebook mengalami pemadaman selama 2,5 jam.

Pada tahun 2015, perubahan pada konfigurasi platform juga menyebabkan pemadaman Facebook dan Instagram selama 50 menit.

November 2018, pengguna Facebook di berbagai belahan dunia mengeluhkan tidak bisa mengakses Facebook seperti biasanya.

Selain Facebook, sehari sebelumnya pengguna layanan Gmail dan Google Drive di beberapa negara juga sempat tidak bisa mengakses layanan tersebut. Masalah ini tak terkecuali juga terjadi di Indonesia.

Pratama menjelaskan, masalah yang paling banyak dialami oleh para pengguna Gmail adalah kesulitan untuk melampirkan (attach) atau mengakses file. Selain itu, pengguna juga tidak dapat mengakses dan menyimpan email draft, termasuk
mengirim email.

Sementara itu, lanjut Pratama, masalah yang paling banyak dialami pengguna Google Drive adalah kesulitan dalam mengunggah ataupun mengunduh file.

Google mengkonfirmasi bahwa kini pihaknya tengah melakukan investigasi dan belum memberikan keterangan lebih lanjut terkait permasalahan tersebut.

"Sulit untuk memahami maintenance membuat down server, karena perusahaan sekelas FB dan Google pasti mempunyai server test sebelum implementasi ke live server," tuturnya.

"Kalau bukan karena DDOS, mungkin terkena serangan jenis lain."

Perusahaan FB dan Google supaya tetap bisa dipercaya di muka publik dan investor, pasti akan menyampaikan hal yang tidak bikin kuatir pengguna dan investornya.

FB dan Google pasti mempunyai mirroring server, sehingga bila terjadi down akan langsung di-take over.

"Dan itu tidak akan lama, seperti di mall, saat listrik PLN mati, otomatis genset akan menyala," jelasnya.

Di media sosial sangat ramai keluhan warganet terkait masalah FB, IG, WA dan Gmail. Pratama menilai ini menjadi tanda betapa warganet Indonesia dan dunia begitu sangat bergantung pada platform teknologi asing tersebut.

"Seharusnya ini menjadi momentum bagaimana pemerintah mendorong lahirnya platform lokal dalam negeri," ujarnya.

Untuk KPU, Pratama mengingatkan, mereka harus waspada terhadap sistem IT-nya karena Google dan FB memiliki sistem yang termasuk paling kuat sedunia pun bisa terkena gangguan serangan seperti kemarin.

"Jangan sampai kita tidak aware sehingga menjadi lemah," terangnya.

Bagi Kominfo, lanjut Pratama, jumlah pengguna Google dan FB di Indonesia sangat besar. Ada lebih dari 140 juta pengguna Google dan 130 juta pengguna FB, termasuk IG dan WA.

"Kominfo bisa mengajukan pertanyaan, bagaimana dampaknya pada akun-akun masyarakat Indonesia. Buktinya Gojek, Traveloka, Bukalapak dan Tokopedia berhasil menjadi pemain penting di dalam negeri," terangnya.

Pratama mengatakan, seharusnya ada dorongan dari pemerintah untuk melahirkan aplikasi media sosial, aplikasi chat dan email lokal buatan anak bangsa yang benar-benar layak dipakai.

Kolom Komentar


Video

Aplikasi Pengawal TPS Di Pemilu 2019

Senin, 25 Maret 2019
Video

Utamakan Guru Honorer Ketimbang Pengangguran

Senin, 25 Maret 2019
Video

Kampanye Terbuka, Kedua Paslon Langgar Peraturan

Senin, 25 Maret 2019
loading