Soal Freeport, Indonesia Diakali Rio Tinto Dan McMoran?

Rabu, 16 Januari 2019, 10:54 WIB

Foto: Net

SETELAH 51 tahun akhirnya Indonesia melalui Inalum (holding) memiliki saham 51 persen saham Freeport (PTFI) dari sebelumnya hanya 9,36 persen.

Namun apakah Indonesia benar-benar untung atas divestasi freeport tersebut? Atau Indonesia lemah dan kalah oleh FCX (Freeport-McMoRan) dan RIO (Rio Tinto)?

Keuntungan yang pasti bagi FCX dan RIO adalah Freeport-McMoRan Inc (FCX) memperoleh keuntungan uang tunai dan kepastian bisnis sampai tahun 2041.
Selain itu, sampai 2022, Freeport masih mendapatkan 82 persen Profit PTFI sebagai kompensasi membeli 40 persen PI RIO menjadi saham 40 persen dengan perbandingan 1:1.

Rio Tinto (RIO) menerima uang berlipat dari nilai aset yang dilepasnya yaitu 258 persen dari nilai gross asetnya (1,49 miliar dolar AS).

Divestasi Freeport (Mengambil alih PTFI) artinya juga mengambil alih utang Freeport yang saat ini sudah melebih modalnya sendiri. Presentasi debt to total rasio adalah -189,09 persen.

Sebelum divestasi, PTFI diminta tanggungjawab atas kerusakan lingkungan senilai Rp185 Triliun oleh kementerian LHK dalam Kepmen LHK 175/2018 terbit pada April 2018. Beban tersebut kini menjadi tangggunjawab INALUM juga.

Rio Untung Besar

RIO dan FCX menekan perjanjian kerjasama Joint Venture (JV) dengan investasi 100 juta USD pada 11 Oktober 1996.

Komitmen Rio adalah sanggup mendanai ekspansi freeport di masa depan dalam porsi 40 persen, sebagai balasannya RIO berhak menerima pendapatan hasil produksi Grasberg sebesar porsi 40 persen juga. Ini yang disebut dengan partisipating interest yang dimiliki RIO di Freeport.

Sejak JV disepakati sampai 2021, jatah 40 persen untuk RIO hanya berlaku jika produksi mineral Grasberg Freeport di atas 118.000 ton per hari.

Dengan kata lain 100 persen uang dari penjualan 118.000 ton hasil tambang masuk Freeport Indonesia. Lalu, baru kalau ada kelebihan produksi di atas ambang volume itu, 40 persennya menjadi hak RIO.

Setelah 2021, RIO akan memperoleh 40 persen hasil penjualan bahan tambang produksi Freeport, tanpa ada batasan volume minimal produksi lagi.

Rio tercatat melakukan pinjaman untuk ekspansi Freeport (PTFI) sebesar 450 juta USD pada 1998. Dalam waktu dua tahun kemudian  PTFI melunasinya berikut dengan bunganya.

Analis memperkirakan selama 22 tahun (1996-2018) RIO telah berinvestasi sebesar 1.49 miliar dolar AS dan memperoleh keuntangan selama 22 tahun sekitar 1 miliar USD dengan rincian 477 juta (1997-2007) dan 523 juta dolar AS (2007-2018).

Tahun 2017, Rio mengalami kerugian besar. Disebutkan pada laporan pada tanggal 31 Desember 2017 kerugian yang ditanggung Rio atas operasional tambang Grasberg Papua adalah USD 169 juta.

Disebutkan pula bahwa nilai aset kotor (gross asset) milik Rio yang ditransaksikan dalam release ini adalah bernilai USD 1.49 Milyar. Inalum harus membayar Rio 258 persen dari nilai aset 1.49 miliar dolar AS yaitu 3.85 miliar dolar AS agar Rio mau melepaskan PI 40 persennya.

Langkah tersebut adalah nilai jual yang terlalu mahal yang dilakukan INALUM. Dapat dibayangkan bahwa RIO sudah rugi di tambang Grasberg di 2017 dan kini mendapatkan uang 258 persen dari nilai aset bukunya.

Ditambah Rio tidak akan dikenakan kerugian Rp185 triliun setara 13 miliar USD akibat kerusakan lingkungan hasil investigasi kementerian LHK dan BPK.

Jelas, Rio sangat bergembira dengan keputusan tersebut. RIO Untung Besar sementara Indonesia buntung dari sisi negosiasi konversi PI RIO 40 persen menjadi milik INALUM.

Namun, Indonesia harus diakui selama RIO investasi di Grasberg (1996-2018) mendapatkan pendapatan negara dari kontribusi pajak, royalti, pajak ekspor, deviden dan pungutan lain.

Rata-rata pertahun Indonesia memperoleh Rp10,8 triliun atau 744 juta dolar AS (kurs 14500), meski tidak sebanding dengan dampak kerusakan sebesar Rp185 triliun, hasil audit BPK dan LHK 2018.

Profil Inalum

PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) adalah perusahaan yang didirikan tahun 1976 oleh Nippon Asahan Aluminium Co. Ltd., sebuah konsorsium 12 perusahaan kimia dan logam Jepang.

Saat pendirian pemerintah RI memiliki saham 10 persen. Saat ini, pemerintah RI menjadi pemegang 100 persen saham Inalum setelah mengambil alih saham milik Nippon Asahan Aluminium Co. Ltd. 

Inalum mencatatkan posisi aset per 31 Desember 2015 sebesar 1.134 miliar dolar AS dan utang sebesar 75 juta USD alias ekuitasnya adalah 1.059 miliar dolar AS. Dari aset tersebut yang berupa aset lancar adalah 719 juta dolar AS.

Jika laba 2016 dan 2017 berturut tidak berubah yaitu 79 juta USD maka posisi akhir 2017 aset lancar Inalum diperkirakan adalah 877 juta dolar AS.

Nilai kapitalisasi inalum sebelum restrukturisasi diperkiraan sebesar 1,54 miliar dolar AS.

Aneh, dalam sisi financial, sebuah perusahaan dengan nilai pasar 1,5 miliar dolar AS mampu menghimpun global bond sebesar 4 miliar dolar AS dalam waktu 1 bulan. Maka hal tersebut adalah leveraging terbesar yang pernah ada dalam sejarah perusahaan tambang di Indonesia.

Jika kita bayangkan, Inalum menggunakan penerbitan saham baru untuk menghimpun 4 miliar USD daripada menggunakan global bond maka kepemilikan saham pemerintah yang tadinya 100 persen maka kini hanya menjadi sekitas 27 persen saja.

Langkah tersebut tidak dilakukan mungkin karena antisipasi reaksi besar masyarakat jika Inalum tidak lagi dikuasai oleh Negara melainkan oleh Shareholdersnya. Sebuah strategi jitu!

Inalum Langsung Punya Beban Akibat Divestasi Freepot

Inalum memiliki beban langsung dari divestasi tersebut. Pertama beban bunga (kupon) atas penerbitan Global Bond 4 Miliar dolar AS dan Beban karena tidak diperolehnya deviden (NOL) dari Freeport dalam kurun 2 tahun 2019-2020.

Beban tidak langsung berupa tidak dipegangnya jabatan Direktur Umum Freeport dan beban lingkungan akibat investas RIO masa lalu.

Hal-hal tersebut menambah beban keuangan bagi Inalum sebagai Holding BUMN Pertambangan.

Inalum mengeluarkan cash tunai sebesar 4 miliar dolar AS yang dibagi atas 3,85 miliar atau senilai Rp55,8 triliun (kurs 14,500) untuk mengakuisi 51 persen saham PTFI tersebut dan 150 juta untuk refinancing.

Sebagai konsekuensinya INALUM harus menyiapkan cash Rp870 miliar-Rp3,4 triliun (rata-rata 1,7 triliun) untuk membayar kupon global bond 6 persen (Detail: 6 persen x 4 miliar USD atau 240 juta dolar AS setara Rp3,4 triliun, Utang jatuh tempo 3 tahun 1 miliar. Kupon 6 persen x 1 miliar dolar AS atau 60 juta dolar AS setara Rp 870 miliar dolar AS).

Apakah INALUM sanggup membayar kupon 6% dan mengkompensasi ketiadaan deviden dalam 3 tahun (2019-2021) dari PTFI?

Inalum menjawab sanggup tapi harus menggerus aset dari perusahaan holdingnya.

Inalum mencatatkan posisi aset per 31 Desember 2015 sebesar 1,14 miliar dolar AS dan utang sebesar 75 juta USD alias ekuitasnya adalah 1,06 miliar dolar AS. Dari aset tersebut yang berupa aset lancar adalah 719 juta dolar AS.

Jika laba 2016 dan 2017 berturut tidak berubah yaitu 79 juta USD maka posisi akhir 2017 aset lancar Inalum diperkirakan adalah 877 juta dolar AS atau setara Rp12 triliun.

Jadi Kupon global bond sebesar Rp 1,7 triliun akan diambil dari aset lancar INALUM sebesar Rp12 triliun. Sampai disini INALUM terlihat gagah meski harus mengaruk kantong sendiri demi sebuah citra INALUM telah menguasai saham PTFI mayoritas.

Setelah tiga tahun menderita, INALUM diprediksi akan memperoleh untung di 2022 dari laba bersih PTFI sebesar 1,5 miliar dolar AS dan keuntungan tersebut semakin besar yaitu 2,1 miliar dolar AS (2023) dan 2,0 miliar dolar AS (2024). Dengan profit demikian diproyeksi Inalum mampu membayar lunas global bondnya 4 miliar dolar AS dalam kurun 5-6 tahun (2027-2028). INALUM tetap optimis.

Inalum yang kini menjadi pemegang saham pengendali PT FI akan mendapatkan untung di 2022 ke atas meski keuntungan masa depannya ditentukan perkembangan harga tembaga dan emas yang sangat fluktuatif. Potensi laba dan potensi ruginya sama besarnya.

Patut dicatat, bahwa Obligasi (surat utang) global Inalum terbagi atas 4 masa jatuh tempo. Pertama obligasi senilai 1 miliar USD untuk tenor 2018-2021 (3 tahun) dengan kupon 5.99%.

Kedua, obligasi global senilai 1,25 miliar USD untuk tenor 2018-2023 (5 tahun) dengan kupon 5.71 persen. Ketiga, obligasi global senilai 1 miliar USD untuk tenor 2018-2028 (10 tahun) dengan kupon 6.53 persen. Keempat, obligasi global senilai 750 juta USD untuk tenor 2018-2048 (30 tahun) dengan kupon 6.75 persen.

Utang INALUM tepat eksis sampai 2048 karena ada global bond 30 tahun yang menjadi beban INALUM.

Sejarah Participant Interest RIO Masuk Ke PTFI

Tahun 1996, Menteri ESDM menyetujui skema konsesi Grasberg ke Rio Tinto atas permintaan Freeport McMoRan (FCX) yang kemudian dikenal participating interest (PI).

Rio Tinto Plc. merupakan perusahaan pertambangan global yang berdiri tahun 1873 ketika sekelompok investor multinasional membeli kawasan pertambangan di Rio Tinto, Huelva, Andalusia, Spanyol dari pemerintah Spanyol. Rio Tinto secara harfiah bermakna sungai merah.

Sejak itu perusahaan berkantor pusat di London itu telah melakukan berbagai merger dan akuisisi.

Saat ini saham Rio Tinto diperjual-belikan secara paralel di London Stock Exchange, New York Stock Exchange, dan Australian Stock Exchange dengan kode saham RIO. Tahun 2017 nilai kapitalisasi saham RIO adalah 89,6 miliar USD dengan dividen 4,95 persen dari nilai saham.

Dalam perjanjian JV intinya adalah memberikan hak atas hasil produksi dan kewajiban atas biaya operasi PTFI sebesar 40 persen sampai dengan tahun 2022, dengan kondisi produksi di atas level atau ambang yang sudah disepakati bersama, yang dikenal dengan istilah metal strip.

Hak partisipasi yang dimiliki Rio Tinto membuat perusahaan tersebut berhak atas 40% bagian hasil dari tambang yang dihasilkan PTFI. Di sisi lain, Rio Tinto juga ikut menanggung sebesar 40 persen biaya operasi tambang di Papua tersebut.

Untuk memuluskan proses divestasi, pemerintah lewat Inalum perlu membeli hak partisipasi yang dimiliki Rio Tinto, sebelum kemudian mengkonversinya sebagai saham untuk kemudian menambah kepemilikan saham pemerintah. Setelah itu, PTFI menerbitkan saham baru yang diborong pemerintah, sehingga porsi sahamnya bisa mencapai 51% sekaligus mendilusi struktur kepemilikan saham sebelumnya.

Dalam konversi PI menjadi Saham, Inalum harus merelakan 82 persen keuntungan PTFI untuk McMoran sampai 2022 agar PI 40  dikonversi menjadi saham 40% dengan perbandingan 1:1.

82 persen economic interest sampai 2022 diberikan kepada Freeport adalah bentuk kekalahan pertama. INALUM menjadi pemegang saham mayoritas akhir tahun 2018 tapi baru menikmati kepemilikannya setelah tiga tahun yaitu tahun 2022.

Sebelum restrukturisasi, FCX memegang saham PT FI sebesar 81,28 persen secara langsung dan 9,36 persen secara tidak langsung melalui PT Indocopper Investama (PT II) alias total 90,64 persen.

Namun demikian, tambang di Grasberg Papua tidak langsung dioperasikan sendiri oleh PT FI, melainkan melalui sebuah Joint Venture (JV) antara PT FI dengan RIO. Dalam JV ini RIO berhak atas 40 persen dari hasil tambang.

Dalam kesepakatan transaksi restrukturisasi, Inalum membeli keseluruhan hak RIO pada JV seharga 3,5 miliar dolar AS secara tunai dan membeli seluruh  saham PT II dari FCX seharga 350 juta dolar AS secara tunai. Hak di JV tersebut selanjutnya akan dikonversi menjadi saham di PT FI. Dengan demikian, pasca divestasi, JV menjadi tidak eksis.
Eksekusi kesepakatan kedua transaksi tersebut menjadikan Inalum sebagai  pemegang 51,2 persen saham PT FI dan FCX memegang 48,8 persen sisanya. Selain itu, disepakati bahwa FCX tetap menjadi pengendali operasional PT FI. Ini merupakan kekalahan kedua.

Jika restrukturisasi tidak berjalan maka pendapatan dividen ke negara berkurang mulai 2022 karena RIO akan langsung mendapatkan 40 persen hak atas produksi Grasberg hingga 2041.

Kenyataannya, Rio telah dianggap merusak lingkungan Papua atas operasi di Grasberg yang tidak ramah lingkungan. Hal tersebut diketahui dari audit Bapak dan surat LKH kepada Freeport.

Kekalahan Indonesia dalam divestasi freeport diantaranya adalah (1) Konversi Participant Interest menjadi Share Interest (SAHAM) dengan perbandingan 1:1 di mana McMoran masih mendapatkan 82 persen economical interest sampai 2022 seharusnya McMoran hanya mendapatkan jatahnya saja 48,8 persen  deviden sejakf 2019. (2) Freeport tetap menjadi pengendali operasional sampai 2022. (3) Struktur Direksi Strategis PTFI masih dikuasai pemilik lama. (4) Diperpanjangnya Freeport sampai 2041 tanpa keuntungan berarti bagi Indonesia di jangka pendek. (5) Kerusakan Lingkungan Rp185 triliun dinegosiasikan. (5) Inalum tidak mendapatkan Deviden sampai 2022, sementara FCX tetap dapat meski terjadi penurunan laba PTFI 2019-2022 (6) RIO Untung besar lebih dari 258% dari aset 2017 yang seharusnya aset RIO sudah mendekati nol karena kontrak 2021 hampi habis. (7) INALUM harus mengeluarkan aset lancarnya (cash) sebesar Rp5,1-10,4 triliun atau 351 juta-720 juta USD dari perusahaan holding untuk membayar kupon global bond 4 miliar USD dalam kurun 2019-2022. Belum termasuk membayar pokok utang jatuh tempo 3 tahun (2019-2022) senilai 1 miliar USD.

Apa penyebabnya kekalahan tersebut, dikarenakan tim negosiasi Indonesia tidak memahami bahwa perpanjangan kontrak karya 2041 adalah aset yang tidak ternilai yang harusnya Indonesia mendapatkan hak yang lebih baik. Penerbitan dan terjualnya global bond 4 miliar dolar AS dalam kurun waktu singkat sekali yaitu 1 bulan diduga adalah kompensasi berbagai kekalahan tersebut.

Banyak analis menduga bahwa pemilik global bond sebesar 4 milar USD itu adalah pemilik lama para investor dari RIO dan FCX. Inalum hanya digunakan cangkang keuangan dimana keuntungan pemilik lama sekarang diperoleh dari 6 persen kupon yang diterima Inalum sebagai dividen PTFI. Sebuah konspirasi keuangan yang paling dasyhat yang pernah terjadi di dunia setelah watergate di Amerika.

Sayangnya, publik tidak mendapatkan informasi siapa sebenarnya pemilik dari global bond tersebut? Mungkin jika ada audit investigasi yang melibatkan multinasional baru akan terkuak. Namun hal tersebut sangat kecil kemungkinannnya dapat terjadi. [***]
Hidayat Matnoer
Pengamat Moneter dan Kebijakan Publik dan Penggasan Garbi DKI
Editor: Sukardjito

Kolom Komentar


loading