Verified
Dr. H. Oesman Sapta

7 Tren SDM Global Di Tahun 2019

 SELASA, 01 JANUARI 2019 , 10:48:00 WIB | LAPORAN: WIDYA VICTORIA

7 Tren SDM Global Di Tahun 2019

Foto: Net

RMOL. Korn Ferry mengindentifikasi beberapa tren sumber daya manusia (SDM) global di tahun 2019.

"Beberapa faktor, termasuk persaingan pasar tenaga kerja yang sangat ketat dan arus tren data yang masif, sangat mempengaruhi cara pakar SDM dan talent acquisition melakukan pekerjaan mereka," kata Head of Professional Search and Growth, ASEAN, RPO and Professional Search Business di Korn Ferry, Dilal Ranasinghe melalui siaran persnya.

Di negara berkembang seperti Indonesia, kata dia, tren ini bahkan menjadi semakin relevan dalam menghadapi kekurangan tenaga ahli yang berdampak pada kenaikan gaji.

"Agar dapat menarik, mengembangkan dan mempertahankan SDM di masa depan, perusahaan perlu menyadari pentingnya kecerdasan buatan serta analitik talenta, sekaligus bersikap fleksibel dan berpikir ke depan dalam strategi manajemen talenta," jelasnya.

Dilal menambahkan, kelompok masyarakat yang bekerja di Indonesia memiliki keunikan karena adanya populasi generasi muda.

Menurut Biro Pusat Statistik Indonesia, akan terdapat sekitar 83 juta milenial yang berusia antara 20 hingga 40 tahun yang akan memasuki usia kerja hingga tahun 2020.

Dilal menjelaskan, generasi millennial memiliki pandangan hidup yang berbeda. Oleh karena itu perusahaan-perusahaan di Indonesia perlu memperhatikan tren talenta yang akan datang seperti gaji yang dipersonalisasi, rebranding jabatan agar menjadi lebih menarik dan kreatif, serta bagaimana penilaian kinerja dilakukan.

Berikut beberapa tren SDM di tahun 2019 yang mungkin akan relevan di Indonesia (tidak berdasarkan urutan tertentu) yang dihimpun Kron Ferry berdasarkan masukan dan pandangan dari pakar bidang perekrutan para profesional, pakar bidang pengembangan SDM serta pakar kompensasi di seluruh dunia:

1. Gaji yang Dipersonalisasi: Silakan, Kami Mendengarkan Anda

Secara umum, divisi pembayaran dan reward di perusahaan serta konsultan SDM perusahaan membuat paket remunerasi dengan biaya yang efektif namun tetap menguntungkan karyawan. Namun dengan empat generasi berbeda di lingkungan kerja, terdapat perbedaan ekspektasi terkait gaji dan paket remunerasi.

Agar dapat memahami perbedaan keinginan akan insentif dalam satu generasi, misalnya generasi millennial, dibandingkan dengan generasi baby boomers, perusahaan mulai mendengarkan ekspektasi karyawan melalui pendekatan sosial, diskusi focus group dan survei.

Berbekal informasi yang didapat, perusahaan dapat menyesuaikan paket remunerasi, dengan beragam pilihan terkait dengan gaji, waktu bekerja yang fleksibel, cuti berbayar, penugasan keluar negeri, fasilitas pinjaman untuk pendidikan, dan lain-lain.

2. Rebranding jabatan (job title) menjadi lebih menarik dan kreatif.

Fungsi dan jabatan baru terus bermunculan di seluruh industri dalam rangka menyesuaikan dengan perubahan strategi perusahaan.

Dari sudut pandang eksekutif, banyak industri seperti kesehatan, keuangan dan ritel, menciptakan fungsi Chief Experience Officer. Para pelaku industri ini memahami bahwa teknologi telah mengubah cara mereka melakukan bisnis, dan terdapat kebutuhan yang semakin meningkat bagi pelanggan untuk memperoleh pengalaman positif.

Jabatan C-level lainnya yang juga baru ada saat ini adalah Chief Transformation Officer, yang menangani manajemen perubahan, biasanya ketika proses merger dan akuisisi. Perusahaan lain juga sangat memperhatikan kesejahteraan para karyawan sehingga mereka membuat jabatan Chief Happiness Officer, dan jabatan Chief People Officer menjadi semakin umum.

3. Mengkaji Ulang Sistem Penilaian Kinerja Tahunan

Dalam sebuah survei yang dilakukan Korn Ferry terhadap para profesional, hampir sepertiga (30 persen) responden mengatakan bahwa penilaian kinerja tahunan mereka tidak berpengaruh apapun terhadap peningkatan kinerja profesional mereka, dan 43 persen mengatakan penilaian kinerja tahunan tidak berdampak atau tidak membantu mereka memahami apa yang harus mereka lakukan lebih lanjut untuk meningkatkan kinerja mereka di masa depan.

Dalam survei yang sama, imbuh Dilal, hampir seluruh (96 persen) responden mengatakan bahwa feedback secara real time dan diskusi terkait kinerja yang dilakukan secara reguler dengan atasan mereka sebenarnya lebih efektif dibandingkan dengan hanya satu kali evaluasi kinerja tahunan.

Bahkan jika karyawan tidak bekerja di perusahaan tersebut dalam jangka waktu lama, feedback yang mereka terima secara reguler akan membantu mereka belajar, berinteraksi dan menciptakan daya saing perusahaan yang akan menarik lebih banyak lagi karyawan di masa depan.

4. Abaikan Jeda Masa Kosong Bekerja!

Pada umumnya, perusahaan akan mengernyitkan kening ketika membaca CV kandidat pelamar kerja dan menemukan bahwa kandidat tersebut berhenti kerja cukup lama karena mereka menjaga anak-anak atau orang tua mereka ataupun berhenti bekerja karena memutuskan untuk kembali belajar atau bepergian (traveling). Saat ini, stigma jeda masa kosong bekerja yang terlalu lama mulai meredup.

Taktik untuk mencari para profesional yang telah lama berhenti bekerja dapat dilakukan melalui sourcing, komunitas talenta, workshop, landing page yang telah dikustomisasi dan microsite, jaringan alumni yang telah berhenti bekerja dan mungkin mempertimbangkan ingin kembali bekerja dan ‘buddy system’ agar proses pengenalan perusahaan dapat berjalan efektif.

5. Menjadikan Kecerdasan Buatan Semakin “Cerdas”

Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dianggap penting dalam proses rekrutmen, terutama dalam membantu mencari kandidat yang berkualitas. Namun, jika tidak diawasi, “kecerdasan” dapat menghambat upaya meningkatkan keberagaman dalam dunia kerja.

Walaupun ketika membuat rancangan deskripsi kerja, dapat dipastikan bahwa pekerjaan tersebut bebas dari diskriminasi gender, ras dan usia, namun bias dalam aspek-aspek tersebut masih rentan terjadi.

3. Pengelolaan Kebutuhan Karyawan Jangka Pendek dengan Tujuan Bisnis Jangka Panjang

Dalam survei terkini yang dilakukan Korn Ferry mengenai perekrutan karyawan, 77 persen responden mengatakan mereka saat ini merekrut posisi yang sebelumnya tidak ada setahun yang lalu. Para pemimpin perusahaan melakukan pendekatan holistik terhadap perekrutan karyawan.

Untuk jangka pendek, mereka dapat meningkatkan kecepatan perekrutan dengan memahami kebutuhan akan jenis karyawan yang beragam seperti karyawan jangka pendek, pekerja lepas dan karyawan penuh waktu yang memiliki keahlian serta pengalaman yang tepat untuk memenuhi kebutuhan baik saat ini yang masa depan.

Pada saat yang bersamaan, sangatlah penting untuk berfokus kepada pendekatan jangka panjang dengan fokus kepada bisnis untuk menciptakan rencana strategis keseluruhan yang memiliki tujuan yang jelas namun dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Oleh karena itu, banyak perusahaan saat ini melakukan outsourcing (alih daya) untuk merekrut karyawan kepada penyedia perekrutan yang memiliki dua tim yang bekerja untuk perusahaan tersebut.

4. Mengimplementasikan Keberagaman di Seluruh Level dan Fungsi Pekerjaan

Muncul sebuah tren positif untuk meningkatkan keberagaman dan penyertaan karyawan di jajaran manajemen puncak. Hal ini menjadikan perusahaan saat ini semakin melihat pentingnya meningkatkan fokus pada seluruh tingkatan jabatan di perusahaan untuk menyertakan karyawan dari berbagai kelompok, termasuk wanita, karyawan dari ras yang berbeda dan para disabilitas.

5. Bagaimana Implementasi Perekrutan?

Perkembangan teknologi memungkinkan adanya feedback secara real time dari para kandidat mengenai pengalaman mereka mengikuti proses rekrutmen. Melalui survei, perusahaan dan manajer SDM memperoleh masukan dan informasi berdasarkan data. Dengan data tersebut, mereka dapat meningkatkan proses rekrutmen, termasuk persyaratan pekerjaan tertentu dan interaksi dengan para kandidat, dalam upaya merekrut talenta terbaik.

6. Analitik Talenta Sama Pentingnya dengan Analitik Bisnis

Pada umumnya, pemimpin perusahaan telah menentukan strategi bisnis mereka dengan menganalisis analtik bisnis untuk menentukan biaya dan efektivitas operasional.

Sebagai contoh, mereka menentukan kapan membuka dan menutup kantor berdasarkan biaya dan kedekatan akses terhadap bahan mentah. Namun, mereka dapat pula mengalami kegagalan karena tidak memiliki akses kepada karyawan yang tepat, terutama ketika disrupsi digital menjadi penting bagi talenta yang dapat mempelajari keahlian baru dan mampu bertahan di lingkungan pekerjaan yang terus berkembang.

Lambat laut, analitik yang fokus kepada talenta di pasar-pasar tertentu, termasuk kompetisi dan ketersediaan talenta yang berkualitas dalam satu kota atau wilayah serta norma-norma kompensasi, akan berjalan bersama-sama dengan analitik bisnis untuk menciptakan pendekatan yang paling efektif dan berkelanjutan.

7. Manajemen Talenta secara Holistik, mulai Dari Perekrutan hingga Pensiun

Dengan arus data yang masif, perusahaan akan memiliki satu cara terintegrasi untuk menganalisis seluruh elemen manajemen SDM, termasuk keputusan perekrutan, pemberian kompensasi dan pengembangan. Namun, di banyak perusahaan, masing-masing fungsi ini beroperasi dengan ‘bahasa’ yang berbeda dan bahkan saling tidak berkoordinasi satu dengan yang lain.

Saat ini terdapat tren yang menuju ke arah pendekatan yang lebih fundamental dan berbasis data yang menciptakan informasi yang dapat ditindaklanjuti dari sudut pandang perusahaan, tim dan individu.[wid]


Komentar Pembaca
BENANG MERAH (EPS.164): Jokowi Main Bumerang, Prabowo Banyak Nahan
#VlogNews: Rasanya Nonton Debat Pilpres Bareng Pendukung Jokowi dan Prabowo
Dukung Prabowo-Sandi Pasca Debat Perdana

Dukung Prabowo-Sandi Pasca Debat Perdana

, 18 JANUARI 2019 , 15:11:00

Joget Di Panggung Debat

Joget Di Panggung Debat

, 18 JANUARI 2019 , 10:58:00

Pijatan Sandiaga Uno

Pijatan Sandiaga Uno

, 18 JANUARI 2019 , 06:45:00