Pengusaha Ngarep Regulasi Perikanan Lebih Bersahabat

Mau Genjot Ekspor Tahun Depan

Jumat, 28 Desember 2018, 10:15 WIB

Foto/Net

RMOL. Ekspor komoditas sektor kelautan dan perikanan dinilai belum optimal baik dari segi volume maupun dengan nilai tambahnya pada tahun ini. Kadin berharap regulasi yang ada lebih bersahabat. Dengan begitu, ekspor tahun depan bisa digenjot.

 Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Kelautan dan Perikanan Yugi Prayanto mengatakan, potensi perikanan nasional harusnya bisa lebih banyak berkontribusi kepada kinerja ekspor nasional. "Jika melihat sebagian besar komodi­tas perikanan, justru volume yang dihasilkan belum optimal," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, volume ekspor sektor kelautan dan perikanan masih didominasi oleh rumput laut yang mencapai 175.000 ton dengan nilai 241 juta dolar AS. Padahal, potensi perikanan Indonesia sangat besar.

Kadin akan mendorong agar sektor perikanan bisa berbicara lebih banyak untuk ekspor. "Kita juga sangat berharap agar kebijakan yang ada bisa men­dukung terhadap upaya ini dan target ekspor yang dicanangkan pemerintah bisa terealisasi," kata Yugi.

Ketua Dewan Penasehat Ke­lautan dan Perikanan Kadin Rokhmin Dahuri menjelaskan, dunia usaha berharap kebijakan yang ada tidak berubah-ubah. Kebijakan yang kerap berubah mempunyai efek berganda yang signifikan terhadap sektor-sektor ekonomi lainnya.

Ia berharap, pemerintah bisa mendorong kemajuan ekonomi terfokus pada pertumbuhan dan ekspor. "Semoga tahun depan, kebijakan pemerintah lebih mengutamakan pendekatan kon­sep membangun pertumbuhan ekonomi yang inklusif serta fokus pada peningkatan nilai dan volume ekspor," ungkapnya.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi belum dirasakan merata khususnya oleh sektor perikanan. Dengan pertumbuhan ekonomi 5 persen itu, belum berdampak pada kesejahteraan nelayan.

Di masa mendatang masih banyak hal yang harus diper­hatikan oleh dunia usaha dan pemerintah. "Kondisi sekarang ini, tidak hanya pelaku usahanya saja tapi nelayan sekalipun masih menemui banyak tantangan yang dihadapi," tuturnya.

Ia mencontohkan sulitnya mendapatkan akses pembiayaan dan permodalan karena diang­gap tidak bankable, selain juga terbentur dengan peraturan-peraturan cukup memberatkan. "Di samping itu, masih mahalnya sarana produksi menjadi catatan tersendiri bagi pengusaha untuk melangsungkan usaha perika­nannya," tukasnya.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menye­butkan ekspor hasil perikanan Januari-Oktober 2018 sebanyak 915.000 ton. Naik jika dibandingkan periode yang sama pada 2017 sebesar 862.000 ton. Sedangkan dari sisi nilai, Januari-Oktober 2018 mencapai 3,99 miliar dolar AS. Naik jika dibandingkan pada periode yang sama 2017 yang mencapai 3,61 miliar dolar AS.

Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP Rifky Effendi Hardijanto mengatakan, terdapat enam komoditi perikanan yang diharapkan mampu memacu nilai ekspor perikanan Indone­sia. Yaitu udang, tuna, kepiting & rajungan, gurita, dan rumput laut serta cakalang dan tongkol.

Ia mengatakan, udang sebagai pilar utama ekspor produk perika­nan Indonesia karena pada periode Januari-Oktober 2018 saja, nilai ekspor udang sudah mencapai 1,5 miliar dolar AS. "Pasar utama udang Indonesia adalah pantai timur Amerika," ujarnya.

Rifky mengatakan, secara umum kebutuhan udang dunia masih belum dapat dipenuhi pemasok-pemasok yang ada. Sehingga ini merupakan kesempatan Indonesia untuk men­goptimalkan pemasaran hasil penangkapan atau budidaya udang Indonesia.

"Potensi udang ini masih besar dan ternyata UPI (Unit Pengolahan Ikan) udang itu baru beroperasi di kisaran 60 persen. Dan ketika saya ngobrol dengan eksportir-eksportir udang, mereka (mengaku) kekurangan bahan baku. Artinya yang harus kita dorong adalah sektor hulu, produsen udangnya. Tambaknya ini yang harus kita perbanyak. Jadi kita dorong intensifikasi dan penggunaan teknologi kolam bio­flok udang," tukas Rifky. ***

Kolom Komentar


loading