Hanura

Garuda Cari Pendapatan Selain Penjualan Tiket

Masih Saja Merugi

 KAMIS, 09 AGUSTUS 2018 , 08:00:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Garuda Cari Pendapatan Selain Penjualan Tiket

Foto/Net

RMOL. Kinerja Garuda Indonesia masih belum terbebas dari kerugian. Berbagai perbaikan dilakukan. Termasuk menggenjot sumber pendapatan lain.
 Sampai semester I-2018 maska­pai pelat merah ini masih menelan kerugian dengan nominal yang besar, yakni Rp 1,6 triliun. Meski menurun jumlah angkanya, tapi rugi tetap saja rugi.

Dirut PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Pahala Mansury berharap, kinerja perusahaan pada tahun ini bakal moncer.

Untuk meningkatkan revenue, Garuda berupaya melakukan pengembangan rute dan frekuensi. Selain itu, perusahaan juga berupaya untuk meningkatkan utilisasi dan jumlah isian di setiap armada miliknya.

Perusahaan tengah menggen­jot pendapatan selain penjualan tiket. Berbagai peluang bisnis tengah ditekuni. Salah satunya adalah diversifikasi pendapatan kargo dan penjualan produk.

Misalnya, penawaran mer­chandise kepada penumpang yang membutuhkan produk yang mendukung perjalanan mereka. Meski tidak memberi kontri­busi besar, namun perseroan ber­harap, bisnis ini bisa mendorong peningkatan pendapatan.

"Kami memiliki inisiatif, untuk penjualan kami ada Garuda Shop. Dengan brand yang kami mi­liki, orang yang melakukan bisa melakukan pembelian barang untuk suvenir atau kebutuhan perjalanan mereka,"  katanya.

Pada pendapatan dari kargo perusahaan, juga diusahakan bisa meningkat di tahun ini. Pada semester I-2018, bisnis kargo meningkat sebesar 2,7 persen menjadi 225 ribu ton.

Mengenai ketepatan waktu penerbangan (on time perfor­mance/OTP), Garuda Indonesia sebagai mainbrand mencapai 89 persen atau meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu 85,8 persen.

Untuk cara optimalisasi bisnis lain adalah mengenalkan kelas baru, yakni economy basic. Kelas ini menawarkan harga tiket yang lebih murah hingga 20 persen ketimbang kelas ekonomi.

"Kami sudah meluncurkan kelas baru Eco Basic, khususnya untuk jenis pesawat ATR dan Bombardier CRJ di mana harga yang kami tawarkan bisa lebih rendah," ujarnya.

Terobosan ini diharapkan akan meningkatkan tingkat isian kursi dua jenis pesawat tersebut yang biasanya hanya mencapai 70-80 persen saja. Nantinya, setidaknya ada 12 kursi Eco Basic di setiap pesawatnya.

Pemberian tiket murah juga memiliki konsekuensi penumpang tidak bisa mengakses lounge, priority baggage, priority check-in dan lainnya.

"Harga yang kami tawarkan bisa lebih rendah tentunya dengan penyesuaian layanan yang diberikan. Misalnya penggunaan lounge tidak lagi dimungkinkan dan sebagainya. Kita berharap, inisiatif ini bisa meningkatkan tingkat isian menjadi lebih baik," kata Pahala.

Dia mengakui, pendapatan utama perseroan masih dari sisi penerbangan. Makanya, Pahala memandang, penerbangan um­rah ke Jeddah dan Madinah, Arab Saudi, merupakan rute yang potensial untuk menambah pendapatan, mengingat animo masyarakat yang tinggi.

"Setiap tahun jumlah revenue yang kami peroleh dari umrah, tidak termasuk haji, kurang lebih sekitar 200 juta dolar AS per tahun," kata Pahala.

Tahun ini pihaknya menar­getkan, pertumbuhan penda­patan dari penerbangan umrah ke kedua kota itu mencapai double digit. Setidaknya dari penerbangan rute itu, Garuda dapat meraup 220 juta dolar AS tahun ini. "Iya berharap ada pe­nambahan lah, mudah-mudahan double digit. Kami tidak bisa sampaikan," tegasnya.

Garuda mencatatkan kerugian 114 juta dolar AS (sekitar Rp 1,64 triliun) pada semester I-2018. Kerugian itu diklaim menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 283,8 juta dolar AS atau sekitar Rp 3,77 triliun.

Kerugian dipicu lonjakan beban operasional, seperti biaya bahan bakar avtur yang naik 12 persen dan depresiasi rupiah terhadap dolar AS. Kebutuhan avtur me­mengaruhi biaya operasional men­capai 35 persen dengan nilai 639,7 juta dolar AS. "Akibat kedua hal tersebut telah mengubah rencana produksi kami," kata Pahala.

Perlu Lebih Agresif

Pengamat penerbangan Alvin Lie menuturkan, Garuda perlu lebih agresif dalam mengem­bangkan rute internasional yang banyak diminati, seperti di Timur Tengah. "Coba lihat ada berapa airline yang punya hak terbang ke Indonesia. Resiprokal berapa kali banyak yang belum dimanfaatkan. Pengembangan rute internasional penting un­tuk mengimbangi pendapatan Garuda. Itu juga bukan hanya dari domestik," saran Alvin.

Sebab, sebagian besar kewa­jiban keuangan Garuda dalam bentuk dolar AS. Selain itu, Garuda harus konsisten terhadap branding yang mereka bangun. "Garuda juga harus memiliki positioning dan strategi marketing yang jelas," katanya.

Menurut dia, Garuda perlu meniru Lion Air yang memiliki positioning yang jelas. Misalnya, kelas menengah ke atas terbang bersama Batik Air, kelas ekono­mi ada Lion. Sedangkan rute perintis ditangani Wings Air.

Bisnis Garuda juga mesti ter­fokus untuk meraih keuntungan dan pelayanan. Tidak sekedar bis­nis karena kinerja perlu diperbaiki dan ditarget. "Garuda tidak jelas. Dengan Citilink, Garuda juga mengoperasikan pesawat baling-baling," tukas Alvin. ***


Komentar Pembaca
Jangan Pilih Pemimpin Munafiqun

Jangan Pilih Pemimpin Munafiqun

, 18 AGUSTUS 2018 , 17:00:00

Rachmawati: Vivere Pericoloso

Rachmawati: Vivere Pericoloso

, 17 AGUSTUS 2018 , 17:00:00

Cakra 19 Untuk Jomin

Cakra 19 Untuk Jomin

, 12 AGUSTUS 2018 , 19:48:00

Sambut Kemeriahan Asian Games

Sambut Kemeriahan Asian Games

, 15 AGUSTUS 2018 , 04:34:00

Pemberian Star Of Soekarno Kepada Prabowo

Pemberian Star Of Soekarno Kepada Prabowo

, 17 AGUSTUS 2018 , 10:48:00