Verified
Dr. H. Oesman Sapta

Model Bisnis Baru Kudu Disiapkan

Hadapi Tantangan Ekonomi Global

 RABU, 09 MEI 2018 , 08:05:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Model Bisnis Baru Kudu Disiapkan

Foto/Net

RMOL. Tantangan ekonomi global yang semakin kuat dan maraknya negara yang memberlakukan kebijakan proteksionisme harus disikapi oleh negara-negara Asia Pasific. Salah satunya adalah dengan menciptakan model bisnis baru.

Hal tersebut dikatakan oleh Ketua Komite Nasional Indo­nesia untuk Pacific Economic Cooperation Council (PECC) Mari Elka Pangestu dalam acara Dialog Global yang digelar oleh PECC dan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) di Jakarta, kemarin.

"Pusat ekonomi dunia seka­rang di Asia-Pasifik, jadi apa yang kita lakukan akan ber­dampak pada bagian dunia lain­nya," ujarnya.

Oleh karena itu, kata dia, perlu kerja sama mengambil tindakan kolektif dan kerja sama untuk menghadapi tantangan ini, yang bukan bisnis seperti biasa. Melalui dialog ini diharapkan, para peserta yang berasal dari se­jumlah pakar dari lembaga inter­national, nasional dan pemangku kepentingan bisa membahas berbagai kebijakan yang diper­lukan untuk menjawab berbagai tantangan dan ketidakpastian yang saat ini kita hadapi.

"Pertanyaan mendasar adalah apakah kita cukup merubah model bisnis yang ada atau perlu model bisnis baru, baik bagi pe­merintah, bisnis, maupun dalam kerja sama regional?," kata man­tan Menteri Perdagangan ini.

Wakil Ketua Dewan Pengawas Yayasan CSIS Jusuf Wanandi mengatakan, saat ini sedang terjadi perubahan dalam tata kelola ekonomi-politik dan ting­kat ketidakpastian yang tinggi dalam sistem global. "Perubahan dalam struktur ekonomi global, di mana kita melihat isu-isu poli­tik dan motif yang mempengar­uhi kebijakan ekonomi termasuk potensi konflik perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia yang akan mempengar­uhi orang lain terutama Asia Pacific," ujarnya.

Konferensi yang mengambil tema Global Disorder: The Need for New Regional Architecture and Business Model? ini digelar dari 7-8 Mei 2018. Forum ini di­hadiri oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

Ada beberapa poin yang diba­has dalam konferensi ini. Per­tama adalah mengenai

ketidakpastian tatanan global terkait sikap Amerika Serikat dan kepemimpinan di sejumlah negara Eropa. Kedua, terkait dampak tranformasi teknologi artifisial inteleligence (AI) serta teknologi digital. Ketiga, men­genai semakin tingginya kebu­tuhan dunia untuk menerapkan konsep pembangunan berkelan­jutan. Dan, terakhir adalah men­genai peran dan kepemimpinan Asia Pasifik dalam memperkuat sistem ekonomi global.

Sementara dalam sambu­tannya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, implementasi industri 4.0 diya­kini akan mendorong peningka­tan pada produktivitas dan daya saing bagi sektor manufaktur nasional yang tergolong padat karya dan berorientasi ekspor. Hal ini karena sesuai arah peta jalan Making Indonesia 4.0, salah satu langkah prioritas nasional yang perlu dijalankan adalah memacu kegiatan pene­litian dan pengembangan untuk menghasilkan inovasi.

"Oleh karena itu, inovasi harus didukung dengan lembaga riset yang kuat," katanya.

Menperin menjelaskan, kun­jungan kerjanya ke Jerman pekan lalu, antara lain guna mempelajari tentang penerapan teknologi dan riset yang dihasil­kan oleh negara tersebut dalam mendukung revolusi industri generasi keempat. "Jerman kan merupakan salah satu negara yang dikenal sebagai sumber teknologi, dan mereka yang awalnya memperkenalkan in­dustri 4.0," tuturnya. ***

Komentar Pembaca
BENANG MERAH (EPS.164): Jokowi Main Bumerang, Prabowo Banyak Nahan
#VlogNews: Rasanya Nonton Debat Pilpres Bareng Pendukung Jokowi dan Prabowo
Dukung Prabowo-Sandi Pasca Debat Perdana

Dukung Prabowo-Sandi Pasca Debat Perdana

, 18 JANUARI 2019 , 15:11:00

Joget Di Panggung Debat

Joget Di Panggung Debat

, 18 JANUARI 2019 , 10:58:00

Pijatan Sandiaga Uno

Pijatan Sandiaga Uno

, 18 JANUARI 2019 , 06:45:00