Hanura

Kalau Saya Ajak Direksi BUMN, Dulu Ada Yang Ngomel Lho...

Interview Rakyat Merdeka Dengan Menteri BUMN (2)

 SELASA, 13 MARET 2018 , 14:56:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kalau Saya Ajak Direksi BUMN, Dulu Ada Yang Ngomel Lho...

Rini Soemarno/RM

RMOL. Selama menjabat menteri di Kabinet Kerja, Rini sudah menjelajah berbagai pelosok Indonesia. Ke daerah terluar, terdepan dan paling tertinggal. Bahkan mengunjungi pulau yang belum pernah didatangi pejabat sekaliber menteri.
Berikut ini bagian (2) wawancara Tim Rakyat Merdeka, yaitu Kiki Iswara Darmayana, Ratna Susilowati, Kartika Sari dan Fajar El Pradianto dengan Rini Soemarno, Selasa (6/3) di sela kunjungan ke Kupang, NTT.

Bagaimana peran Kementerian BUMN untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat termasuk menurunkan tingkat kemiskinan?
Program Bapak Presiden sangat jelas, melalui social safety net yang jumlah penerimanya terus ditingkatkan. Kami di Kementerian BUMN ikut membantu masyarakat yang masih produktif atau yang ingin produktif melakukan aktivitas usaha, sehingga bisa memberikan tambahan pendapatan kepada keluarganya. BUMN melakukan banyak kegiatan untuk membantu masyarakat keluar dari rentan miskin, miskin dan seterusnya. Saya meyakini, ini harus dilakukan hand in hand. Tak bisa mengandalkan program social safety net saja. Mereka dibantu, diberikan tools, agar meningkat kemampuannya. Ada banyak program. Misalnya Mekaar, yang dikerjakan oleh PT PNM (Permodalan Nasional Madani).

Ini pembiayaan untuk ibu-ibu prasejahtera, agar mereka semangat menjalankan usaha. Misalnya, mau jualan nasi bungkus, jualan gorengan. Kalau dulu modal dari tengkulak, kini dari PNM. Program ini sangat bagus, sudah ke seluruh pelosok Indonesia hingga Papua. Saya bangga. Bangga, BUMN bisa melakukan itu. Program ini ada pembinaannya. Kami rekruit, pembina anak-anak SMA. Mereka ditraining. Total jumlahnya saat ini mencapai 24 ribu orang dan berkeliling setiap minggu. Kita rekruit dari warga lokal, misalnya, di Sentani, Papua, lalu kita bawa ke Jakarta dan ditraining. Kepadanya diperlihatkan program ini di wilayah lain yang sudah sukses. Setelah dididik, kita kirim kembali ke daerahnya, dan mereka mulai menjalankan programnya.


Program Mekaar ini juga sekaligus mendorong masyarakat agar bisa menabung. Jadi, ada kerjasama CSR dengan bank-bank BUMN, dan mereka dibukakan tabungan. Saat ini program social safety net diberikan melalui kartu, agar mereka bisa menghitung kebutuhan, dan jika ada sisa ditabung. Apabila bantuan diberikan tunai, kuatir jadi konsumtif, dan uangnya habis. Berbeda jika dibukakan rekening. Mereka akan berusaha menabung.

Hingga September 2017, PNM melalui program Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera) telah menyalurkan pembiayaan Rp3,35 Triliun, kepada 1.642.648 perempuan Pra-Sejahtera. Pembiayaan melalui 1.171 kantor layanan PNM Mekaar yang tersebar di 24 provinsi di Indonesia. Program ini diberikan untuk menumbuhkan budaya kerja keras, disiplin dan budaya menabung. Ini adalah bagian dari revolusi mental masyarakat paling bawah. Untuk memajukan usaha nasabah, PNM melakukan program berkala, pendampingan melalui kegiatan Pertemuan Kelompok Mingguan atau PKM. Jumlah Tenaga Kerja PNM hingga September 2017 tercatat 21.250 orang, termasuk 15.334 yang bertugas sebagai ujung tombak Mekaar PNM di seluruh Indonesia.

Banyak kalangan sering bertanya. Kenapa ya, kemana-mana saat blusukan ke daerah Menteri BUMN membawa banyak direksi BUMN
....  Mereka, para direksi BUMN itu harus bisa betul-betul menyadari bahwa masih besar sekali jumlah masyarakat kita yang belum beruntung, belum mendapatkan kesejahteraan memadai. Masih banyak tempat sekolah yang belum bagus, banyak hunian yang belum layak. Kalau kita hanya di Jakarta atau duduk di belakang meja saja, kita nggak tahu keadaan itu. Kita harus melihat secara langsung masyarakat agar rasa empati tumbuh. Saya ingin, direksi-direksi BUMN memiliki rasa empati kepada bangsanya. Sehingga bisa membantu hidup rakyat lebih baik. Itu tujuan utamanya. Dan saya bersyukur, tiga tahun sejak memulai ini, sekarang sikap mereka mulai berubah.

Kementerian BUMN aktif mengkampanyekan Sinergi BUMN dan BUMN Hadir untuk Negeri. Bagaimana mengawali ini, dan apa bagian tersulit saat menjalankan program ini. Saya rasa, di tahun-tahun pertama, para direksi itu, kalau saya ajak pergi, ada yang ngomeeeel. Saya tahu itu. Di belakang, mereka ngomeeel. Hahahaa... (tertawa).


Kenapa mereka mengomel? Mereka ini direksi, dirut. Ada direktur utama perusahaan besar. Kalau pergi, mereka biasa menginap di hotel minimal bintang 4 atau bintang 5. Nah, kalau pergi dengan saya, nginapnya di hotel bintang dua, atau kadang di kelas melati, saya nggak masalah. Di tahun-tahun pertama, kita pergi naik kereta, pesawat, pakai kelas ekonomi. Lalu, banyak yang menelpon saya, kenapa sih nggak boleh (naik kelas), kan perusahaannya sudah untung. Saya jawab, ya biarpun untung, tapi ini perusahaan rakyat.

Ini agar kita semua menyadari, belum banyak masyarakat kita mendapatkan apa yang seharusnya. Jadi, kalau kita merasa sudah bisa menikmati, ya tanggung jawab kita untuk ikut membantu mereka. Tapi, baru tahun kemarin saya izinkan (naik kelas). Karena keuntungan perusahaan makin bagus, mayoritas perusahaan sudah baik. Jumlah perusahaan BUMN yang rugi sudah makin turun dan makin kecil jumlahnya.


Selain itu, ada juga reaksi dari perusahaan BUMN yang sudah besar dan menghasilkan keuntungan, heran. Pikir mereka, ini (program) apa sih? Aku sudah bisa sendiri. Jalan sendiri. Mengapa harus mengurusi yang lain, perusahaan yang lebih kecil? Dulu-dulunya, ini antar BUMN perbankan, misalnya, memangnya mau saling ngomong? Mereka nggak pernah ngomong satu sama lain. Malahan, dulu katanya, di lapangan, kalau ada umbul-umbul bank X, lalu ada menteri datang, umbul-umbul X dicabut diganti bank Y. Sekarang semua sudah kompak. Kalau nggak, beneran deh bisa saya getok, hahaha (tertawa). Mereka ini sekarang harus kerjasama. Dan supaya sinergi, mau nggak mau, saya harus sering ke lapangan.

Sudah berapa banyak kota dan provinsi yang dijelajahi sejak jadi Menteri? Waduh banyak sekali. Nggak tahu deh jumlahnya, hahaha (tertawa). Kalau saya pergi ke tempat tertentu, tidak semua BUMN saya tawari ikut. Ini saya bagi wilayah, supaya akhirnya, semua tempat nanti kebagian. Tapi menariknya, sekarang mereka sering bertanya-tanya, kalau nggak diajak. Kenapa saya tidak diajak? Katanya, kalau tak ikut, saya nggak akan sampai ke tempat itu. Nah, saya senang. Ini artinya mereka mulai menyadari dan mereka ingin tahu bagian Indonesia yang belum pernah mereka lihat. Kalau kita nggak buat program (Sinergi BUMN Hadir Untuk Negeri), mungkin mereka nggak akan pernah sampai ke tempat itu. Saya menekankan, sebagai BUMN harus untung, sehat dan dikelola profesional agar bisa jadi agen pembangunan. Membantu masyarakat. BUMN ini adalah perusahaan milik negara, milik bangsa. Jadi, nggak boleh ada ego-egoan. Perusahaanku baik, perusahaanmu begitu.

Perusahaanmu dari mana? Ini milik negara, bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

Jadi harus saling membantu. Program ini sudah berjalan tiga tahun dan tinggal 1,5 tahun lagi. Saya berharap, ke depan, budaya empati dari BUMN sudah tertanam, sehingga mereka mengerti sendiri.

Dari ratusan jumlah perusahaan BUMN, berapa yang masih rugi dan bagaimana menghandel-nya agar bisa kembali sehat?
Masih ada sisa-sisa masa lalu, yang dicoba dibersihkan. Masih problem, tapi alhamdulillah banyak yang sudah diselesaikan. Dulu, ada 25 perusahaan BUMN yang merugi, sekarang tinggal 12. Dulu kerugian mencapai kisaran Rp25 triliun, sekarang tinggal Rp 5 triliun. Dua perusahaan besar, paling berat. Tapi saya tagretkan 2018 harus selesai, yaitu Garuda dan Krakatau Steel. Dua itu saja kerugiannya mencapai 4 triliun. Jadi, itu dua perusahaan yang harus dikejar, tahun ini selesai.

Garuda dan Krakatau Steel ini sebenarnya kenapa dan apa yang salah?
Dan bagaimana Kementerian BUMN menyelesaikan persoalannya? Ini ada masalah di investasinya. Kalkulasi investasi saat pembelian pesawat dan program maintenance membuat cost per seat menjadi mahal. Garuda sekarang kita efisiensikan. Pak Pahala (Pahala N Masyuri, Dirut Garuda) dengan timnya, sudah bekerja sangat keras dan bagus. Jalur dan rute-rutenya harus diperbaiki. Utangnya, terus kita negosiasi. Saya menekankan, Citilink harus dikembangkan. Untuk Indonesia, yang negara kepulauan, transportasi ke depan akan banyak menggunakan pesawat, dan LCC is the market.

Lalu, Krakatau Steel. Harapannya, Pemerintah memberikan dukungan untuk tidak memudahkan impor baja. Ini salah satu industri dasar yang harus kita jaga. Harus diproteksi. Semua negara melakukan itu. Amerika pun begitu, lalu kenapa kita tidak.


Menteri BUMN sering berkunjung ke lokasi yang aksesnya yang sulit. Bagaimana upaya pemerintah, khususnya Kementerian BUMN untuk meningkatkan konektivitas dan elektrifikasi di daerah terluar, terdepan dan tertinggal? Ini program pemerintah dan selalu kita kerjakan. Kita datang ke tempat-tempat sulit. Saya ngotot ingin pakai Feri, karena ingin ikut merasakan alat transportasi yang biasa digunakan masyarakat setempat. Saya pernah ke Pulau Liran, sebelum saya tidak pernah ada menteri datang. Di Pulau Liran, kita beri sambungan listrik. Saya menyadari, biaya sambungan listrik mahal sekali. Meskipun ada subsidi, tapi kurang cukup. Makanya, perlu ditambah melalui CSR BUMN, dan langsung ke masyarakat. Lalu di daerah lain, yang terbatas, bisa dengan solar panel atau hydropower kecil. Ini sinergi dengan Kementerian ESDM. Dimana ada kebutuhan masyarakat, sementara anggaran negara terbatas, maka kita bantu melalui CSR atau program sponsorship dengan BUMN. Kita saling mengisi.

Pulau Liran berada di Kabupaten Wetar Barat, Maluku. Berbatasan dengan Timor Leste. Jumlah penduduknya sekitar 235 kepala keluarga. Untuk mencapai Pulau Liran melalui Laut Banda yang bergelombang tinggi. Dari Pulau Moa, Ambon butuh waktu 8 jam perjalanan laut. Transportasi ke lokasi-lokasi sulit menggunakan kapal milik ASDP. PT ASDP (Angkutan Sungai, Danau dan Penyebrangan) Indonesia Ferry adalah BUMN yang bergerak di jasa angkutan penyebrangan dan pengelolaan pelabuhan penyebrangan penumpang, kendaraan dan barang. ASDP menyediakan akses transportasi publik antara pulau termasuk ke wilayah yang belum memiliki penyebrangan.

Saya menekankan, konektivitas sangat penting. Banyak area yang costnya sangat tinggi. Ada beberapa titik mendapatkan subsidi dari negara, tapi seringkali nggak memadai. Dengan sinergi BUMN, kita bisa improve. ASDP kan punya tanggung jawab berat sekali, sementara balance sheetnya cukup mepet. Maka, misalnya, kalau kapal ASDP kurang bagus, dibantu program sponsorship oleh BUMN lain. Dicat dibuat keren, lalu ada branding BUMN lainnya. Misal Telkom, Mandiri. Ini saling membantu, sehingga BUMN yang punya tanggung jawab layanan ke masyarakat bawah, bisa memberikan yang terbaik.
***(Bersambung)




Komentar Pembaca
BENANG MERAH (EPS.156): Menanti Hasil Perburuan SBY
Ketum PP Muhammadiyah Siap Menangkan Prabowo-Sandi
720 Pengacara Bela Rizal Ramli

720 Pengacara Bela Rizal Ramli

, 17 SEPTEMBER 2018 , 17:17:00

Cium Tangan Kiai

Cium Tangan Kiai

, 21 SEPTEMBER 2018 , 22:41:00

Antri Tanda Tangan

Antri Tanda Tangan

, 18 SEPTEMBER 2018 , 03:45:00