Hanura

Duh, Baru Terjual 775 Lembar, Sosialisasikan Lebih Masif Lagi

Uji Coba Program OK Otrip

 SENIN, 08 JANUARI 2018 , 09:06:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Duh, Baru Terjual 775 Lembar, Sosialisasikan Lebih Masif Lagi

Foto/Net

RMOL. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sudah meluncurkan program One Karcis One Trip (OK Otrip), pada 22 Desember 2017 lalu. Salah satu janji kampanye Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan-Sandiaga Uno ini akan mulai diuji coba pada 15 Januari hingga 15 April 2018. Sayangnya masih sepi peminat. Warga masih belum mau diajak naik transportasi massal.
 Sepekan jelang uji coba, sudah berapa kartu yang terjual? Sejak 22 Desember 2017 hingga 03 Januari 2018 lalu, penjualan kartu yang dipusatkan di 10 halte Tran­sjakarta yang telah ditentukan, tercatat hanya 775 lembar.

Kepala Humas PT Transjakarta, Wibowo mengatakan, pada tahap awal ini, ada sebanyak 2.500 kartu OK Otrip yang dicetak. Sejauh ini, kartu tersebut lumayan diminati penumpang. Terbukti dalam dua pekan pen­jualannya sudah mencapai 775 kartu. "Penjualan kartu OK Otrip sudah mencapai 775 lembar sejak dipasarkan 22 Desember lalu," ujarnya di Jakarta.

Bowo merinci, 10 halte Tran­sjakarta yang menjual kartu OK Otrip masing-masing Halte Grogol 1 dan 2, Halte Matraman 1 dan 2, Halte Dukuh atas 1 dan 2, Halte Harmoni, Halte Kam­pung Melayu, Halte Tanjung Priok, Halte Enggano, Halte Penas Kalimalang, Halte Lebak bulus dan Halte Kalideres. "Pen­jualan merata di semua halte. Karena kartu memang sudah bisa langsung dipakai di seluruh koridor Transjakarta," ujarnya.

Menurut dia, satu kartu OK Otrip dijual senilai Rp 40 ribu dengan saldo Rp 20 ribu. Selain untuk Transjakarta, kartu tersebut juga bisa digunakan untuk perjalanan Commuter Line atau KRL.

Seperti diketahui uji coba penerapan OK Otrip dilakukan selama tiga bulan, tepatnya dari 15 Januari hingga 15 April. Uji coba dilakukan dengan 69 angkutan bus kecil di empat trayek, yakni Jelambar Jakarta Barat, Warakas Jakarta Utara, Duren Sawit Jakarta Timur, dan Lebak Bulus Jakarta Selatan. Selama uji coba, penumpang hanya perlu membayar Rp 3.500 untuk satu tujuan perjalanan dari titik awal sampai ke titik tujuan. Setelah uji coba, tarif disesuai­kan menjadi Rp 5.000.

Namun durasi waktunya setelah menge-tap kartu pertama kali, hanya tiga jam. Setelah itu, penumpang dianggap menlaku­kan perjalanan baru,

Ketua Koalisi Rakyat Pe­merhati Jakarta Baru (Katar) Sugiyanto Emik menilai, OK Otrip tidak menarik bagi warga. Sehingga peminatnya masih sedikit. Apa alasannya? Selain soal teknis, yakni sosialisasi yang kurang, warga juga tak tertarik naik angkutan massal.

"Konsepnya memang bagus dan murah. Cuman bisa gak dijalankan? Adanya program ini supaya pindah ke transpor­tasi massal? Tetapi transportasi massal utamanya, yakni Transja­karta masih belum maksimal," kata Sugiyanto saat berbincang dengan Rakyat Merdeka.

Dikatakannya, Transjakarta harus terlebih dahulu berbe­nah. Persoalan waktu tunggu alias headway, antrean panjang dan berjubel-jubel, kemacetan karena jalur belum steril, mem­buat warga kurang minat naik Transjakarta. Akhirnya, warga lebih memilih bayar mahal dengan naik angkutan daring alias online.

"Gak bakal tertarik itu. Orang lebih milih keluar duit banyak, gak mau nunggu lama, ogah ngantre. OK Otrip akan sia-sia. Orang minat sedikit, apa gunanya? Wong masih gak nyaman, masih kena macet juga, ini harus dibenahi dulu," sarannya.

Apalagi, warga memandang Transjakarta bukan sebagai gadis cantik, melainkan janda tua. "Kalau sudah baik Transja­karta, gak ada oke-oke an, itu berebut kok naik Transjakarta, Kalau masih begitu, gak tertarik deh," ingatnya.

Setelah transportasi utama sudah bagus, lanjut dia, baru feeder dan penghubungnya dibenahi. Ini berkait dengan integrasi metromini, angkot dan angkutan yang lain yang belum mau integrasi.

"Pemerintah harus berkorban. Kalau mau merangkul mereka, harus menguntungkan di bawah konsorsium misalnya. Formu­lasinya harus jelas. Diambil semua trayeknya, sopir dengan gaji tetap. Tapi mampu gak Pemprov bayar itu semua? Inti­nya, OK Otrip itu, kalau tidak memberikan perubahan, jangan malu dibatalkan," paparnya.

Sementara itu, Pengamat Tata Kota Universitas Trisakti Nir­wono Yoga memberi catatan soal durasi waktu tiga jam. Sebaiknya, batasan waktunya tidak sependek itu. Harusnya, minimal durasi ber­lakunya untuk sekali tap kartu 12 jam. Yakni dari pukul 06.00 pagi sampai 18.00 sore saat orang be­rangkat dan pulang kerja. Sedangkan khusus untuk anak sekolah sebaiknya berlaku sehari full.

PRberikutnya adalag inte­grasi dengan angkot, metromini dan kopaja secara menyeluruh. Artinya, Pemprov DKI harus segera menggandeng semua jenis angkutan ini di bawah payung PT Transjakarta.

Wagub Sandi Bakal Terjun Langsung Jualan OK Otrip

Program One Karcis One Trip (OK Otrip) akan mulai diuji coba 15 Januari hingga 15 April mendatang. Sayangnya, peminatnya masih sedikit.

Wakil Gubernur DKI Ja­karta Sandiaga Salahudin Uno mengakui pengguna program OK Otrip masih rendah. Penggunanya tak mencapai lima ribu orang. Untuk itu, pihaknya akan meningkatkan sosilaisasi OK Otrip agar dapat mengejar target tersebut.

"Sekarang ini kalau enggak salah belum sampai 5 ribu penggunanya, masih sangat rendah," aku Sandi di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan.

Sandi menyebut, sebe­narnya, banyak sekali peng­guna yang terbantu dengan OK Otrip. Namun, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memerlukan masukan dari masyarakat soal program ini.

Dia berharap, warga mau mencoba program ini. Pemprov DKI akan menyosialisasikan secara massif prorgam OK Otrip.

"Untuk meningkatkan pe­layanan, kita butuh lebih ban­yak lagi yang menggunakan. Jadi kita ingin agar periode uji coba ini banyak yang menggunakan supaya banyak masukan-masukan agar bisa melakukan perbaikan. OK Otrip butuh dorongan dan sosialisasi yang lebih baik. Saya sudah banyak terima masukan dari teman dan masyarakat di 4 lokasi atau trayek rute itu merasakan keunggulan dari OK Otrip," katanya.

Selain itu, Sandi menilai, kurangnya pemberitaan me­dia terkait OK Otrip menjadi salah satu penyebab minim­nya perhatian publik terhadap program unggulan Pemprov DKI di bidang transportasi ini. "Karena minimnya eks­poser terhadap OK Otrip, kita banyak sekali agenda yang kita lakukan oleh Pemprov ini terbenam dengan berita-berita lain," ujarnya.

Agar masyarakat tertarik dengan program ini, Sandi mengatakan akan langsung terjun memperkenalkan dan mensosialisasikan OK Otrip kepada masyarakat. "Saya mungkin minggu ini akan mencoba sendiri menjadi kelinci percobaan OK Otrip," imbuhnya.

Sandi juga mengaku heran mengapa masyarakat tidak menaruh perhatian ataupun tertarik terhadap program ini. Padahal ia telah meminta TransJakarta dan Dinas Per­hubungan DKI untuk mening­katkan layanan OK Otrip.

Serupa, Deputi Gubernur DKI Bidang Industri Perda­gangan dan Transportasi (In­dagtras), Sutanto Soehodho meminta, jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait diminta untuk turut serta mensukseskan program tersebut.

SKPD yang juga terlibat dalam program ini selain Di­nas Perhubungan seperti Di­nas Bina Marga, Dinas Tata Air, Inspektorat, Biro Per­ekonomian serta Dinas Kehu­tanan. Sutanto pun meminta agar sosialisasi program OK Otrip lebih digencarkan. "Saya minta setiap SKPD memahami jelas program ini seperti apa," ujarnya di Balai Kota DKI Jakarta.

Sementara itu, Dinas Per­hubungan (Dishub) DKI me­rencanakan memasang alat tapping di 69 angkot. Kepala Dishub DKI Jakarta Andri Yansah menyebutkan proses pengadaan alat tapping kini dalam proses lelang. Pada 10 Januari 2018 alat itu akan datang, dan kemudian tiga hari berikutnya, akan mulai dilakukan pemasangan di 69 angkot. "Tanggal 11, 12, 13, 14 itu pemasangannya (in­stalasi alat tapping) tanggal 15 Insya Allah sudah oke," kata Andri kepada wartawan di Jakarta.

Andri menjelaskan, pihaknya telah memesan alat tapping sebanyak 100 item. Ini untuk persiapan bila program OK Otrip diminati warga DKI, dengan begitu otomatis pihaknya pun akan mempersiapkan tambahan trayek OK Otrip.

Terkait program ini, Gu­bernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan bertemu dengan Gubernur Bank Indo­nesia (BI) Agus Martowardo­jo untuk membahas koneksi sistem perbankan yang akan diberlakukan dalam program OK Otrip.

"Kita membutuhkan du­kungan BI agar program OK Otrip bisa tersambungkan dengan sistem perbankan dan sesuai dengan seluruh ketentuan yang ada di Bank Indonesia," kata Anies.

Menurut Anies, Agus telah menginstruksikan jajaran­nya untuk mendukung pelaksanaan uji coba OK Otrip. BIK akan melakukan penin­jauan terhadap program yang menggunakan uang elektronik untuk melakukan transaksi pembayaran saat menggu­nakan transportasi, seperti layaknya Transjakarta.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo men­gatakan OK Otrip memang membutuhkan dukungan BI. "Mengenai integrasi trans­portasi di Jakarta, itu membu­tuhkan dukungan BI agar pro­gram OK Otrip bisa terhubung dengan sistem perbankan," kata Agus. ***

Komentar Pembaca
2017-2018, Pemerintah Tambah Utang Rp 1,47 Triliun Per Hari<i>!</i>
Gaduh Impor Beras, Nasdem Minta Jokowi Duduk Bersama Buwas Dan Enggar
Prihatin, Mandiri Tunas Finance Restrukturisasi Kredit Pelanggannya Di Lombok
Fahri: Waspada Pak Jokowi, Ada Tikus Mati Di Lumbung Padi<i>!</i>
Gaduh Impor Pangan, Salah Jokowi<i>!</i>

Gaduh Impor Pangan, Salah Jokowi!

JUM'AT, 21 SEPTEMBER 2018

Gudang Bulog Penuh

Gudang Bulog Penuh

JUM'AT, 21 SEPTEMBER 2018

Grup Tari Saman Tuna Netra Pecahkan Rekor MURI
Massa Pro Dan Kontra Jokowi Bentrok

Massa Pro Dan Kontra Jokowi Bentrok

, 20 SEPTEMBER 2018 , 19:00:00

Ratusan Mahasiswa Bergerak Ke Istana Tuntut Presiden Jokowi Turun Tahta
Peluncuran Tagar #2019TetapPancasila

Peluncuran Tagar #2019TetapPancasila

, 13 SEPTEMBER 2018 , 16:15:00

HMI Demo Jokowi

HMI Demo Jokowi

, 14 SEPTEMBER 2018 , 03:12:00