Hanura

Bunga Single Digit Masih Sekadar Isapan Jempol

Banyak Perbankan Ogah Turunin Imbalan

 JUM'AT, 05 JANUARI 2018 , 08:21:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Bunga Single Digit Masih Sekadar Isapan Jempol

Foto/Net

RMOL. Sepanjang 2017, penurunan suku bunga menuju single digit belum optimal. Meski di beberapa sektor suku bunga sudah turun, namun secara rata-rata angkanya masih di double digit. Per November 2017 misalnya, dari data Bank Indonesia (BI), bunga kredit industri perbankan masih di kisaran 11 persen.
Berdasarkan catatan BI, sampai November 2017, suku bunga kredit masih di 11,45 persen atau cuma turun 138 basis poin (bps) dari Januari 2016. Padahal, Presiden Jokowi telah meminta perbankan menurunkan suku bunganya menjadi single digit. Presi­den bahkan telah berulang kali menekankan hal ini. Tujuannya, agar kredit murah, bisa diakses seluruh kalangan masyarakat, sehingga bisa mendorong pertum­buhan ekonomi secara nasional.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual menganalisis, hal ini terjadi karena perbankan sebagai lembaga bisnis yang berorientasi profit, cenderung memilih ber­main aman. Mereka tidak untuk tidak buru-buru memangkas suku bunga kredit saat menghadapi turunnya suku bunga acuan.

Kata David, bank butuh waktu melakukan penyesuaian suku bunga. Salah satu penyebabnya adalah masih mahalnya biaya dana, seperti deposito. Bagi perbankan, deposito dianggap dana mahal karena bunganya yang lebih tinggi ketimbang tabungan dan giro.

Deposito sendiri masih men­jadi andalan bank untuk menda­patkan dana pihak ketiga (DPK). Ini dikarenakan uang yang ter­simpan relatif lebih lama, meng­ingat deposito memiliki jangka waktu yang relatif panjang.

"Frekuensi penarikan juga terbilang jarang. Bank bersaing ketat untuk mendapatkan de­posito. Salah satu caranya adalah dengan menawarkan tingkat suku bunga simpanan yang ting­gi. Inilah yang kemudian mem­buat biaya dana semakin mahal, termasuk beberapa suku bunga kredit di sektor lain seperti KPR (kredit pemilikan rumah) misalnya masih agak tinggi," kata David saat dihubungi Rakyat Merdeka, kemarin.

David mencontohkan, jika bunga KPRdipangkas tanpa menurunkan bunga deposito, pendapatan bank bisa terganggu. Makanya, bank lebih memi­lih menurunkan bunga deposito lebih dulu sebelum memangkas bunga kreditnya.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Heru Kristiyana opti­mistis, harapan adanya penurunan suku bunga hingga single digit masih bisa dicapai tahun ini. Buk­tinya, tahun lalu, beberapa sektor sudah single digit. Hanya saja belum merata di semua bidang.

"Bunga korporasi sudah single digit. Yang lainnya memang masih menyesuaikan," ucapnya.

OJK pun terus mengingatkan perbankan bahwa ada beberapa hal yang bisa dilakukan per­bankan untuk menekan suku bunga kredit ke bawah 10 persen. Perbankan perlu mening­katkan efisiensi dan menerapkan strategi yang lebih baik kepada segmen kredit yang memiliki pe­luang bagus, terutama perbankan harus meningkatkan efisiensi dan penerapan teknologi yang lebih baik kepada segmen yang membutuhkan pembiayaan dan prospek lebih baik.

"Monitoring kredit dengan teknologi dan service teknologi bisa mendapatkan penghematan lebih banyak. Nantinya, tentu ini akan membuat suku bunga kredit turun," yakinnya.

Direktur Keuangan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Iman Nugroho Soeko meng­klaim, tahun lalu pihaknya menu­runkan bunga kredit lebih agresif dibanding BI. "Memang ada be­berapa sektor yang tinggi, namun beberapa sektor kredit yang pri­oritas sudah kami turunkan," kata Iman kepada Rakyat Merdeka.

Iman mengakui, bunga kredit konstruksi BTN masih di angka 11 persen dan. Namun, untuk KPR hanya 9,5 persen, dan KPR Subsidi hanya 5 persen.

Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Achmad Baiquni justru mem­prediksi suku bunga kredit per­seroan akan menurun pada 2018. Alasannya, biaya dana (cost of fund) yang kini lebih rendah.

"Kami prediksi (bunga kredit) sedikit lebih menurun karena sekarang memang cost of fund turun dan inflasi rendah," kata Baiquni. Untuk prosentase penu­runan, Baiquni enggan menye­butkan angka.

Baiquni melihat, kondisi per­ekonomian domestik dan rencana kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Fed akan memengaruhi penentuan suku bunga kredit. "Itu sangat situasional. Kita be­lum tahu, bagaimana nanti jika FFR (Fed Fund Rate) kembali dinaikkan. Pasalnya, kenaikan FFR pasti akan memengaruhi perekonomian negara-negara berkembang, termasuk Indone­sia. Ini perlu menjadi perhatian," ucapnya, mengingatkan.

Apabila tren pertumbuhan ekonomi Indonesia terus positif dan iklim usaha semakin kon­dusif, tambahnya, dampak ke­naikan FFR itu dapat diredam. Bank pun tidak perlu mening­katkan suku bunga kredit.

Saat ini, pihaknya masih menunggu respons BI atas rencana kenaikan FFR tersebut. "Mudah-mudahan dengan kondisi dalam negeri yang kondusif, itu bisa meredam kenaikan FFR. Kita tunggu BI juga bagaimana BI rate nanti," terangnya. ***


Komentar Pembaca
2017-2018, Pemerintah Tambah Utang Rp 1,47 Triliun Per Hari<i>!</i>
Gaduh Impor Beras, Nasdem Minta Jokowi Duduk Bersama Buwas Dan Enggar
Prihatin, Mandiri Tunas Finance Restrukturisasi Kredit Pelanggannya Di Lombok
Fahri: Waspada Pak Jokowi, Ada Tikus Mati Di Lumbung Padi<i>!</i>
Gaduh Impor Pangan, Salah Jokowi<i>!</i>

Gaduh Impor Pangan, Salah Jokowi!

JUM'AT, 21 SEPTEMBER 2018

Gudang Bulog Penuh

Gudang Bulog Penuh

JUM'AT, 21 SEPTEMBER 2018

Grup Tari Saman Tuna Netra Pecahkan Rekor MURI
Massa Pro Dan Kontra Jokowi Bentrok

Massa Pro Dan Kontra Jokowi Bentrok

, 20 SEPTEMBER 2018 , 19:00:00

Ratusan Mahasiswa Bergerak Ke Istana Tuntut Presiden Jokowi Turun Tahta
Peluncuran Tagar #2019TetapPancasila

Peluncuran Tagar #2019TetapPancasila

, 13 SEPTEMBER 2018 , 16:15:00

HMI Demo Jokowi

HMI Demo Jokowi

, 14 SEPTEMBER 2018 , 03:12:00