Hanura

Saatnya Pemerintah Tegas Sama Freeport

 KAMIS, 04 JANUARI 2018 , 11:30:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Saatnya Pemerintah Tegas Sama Freeport

Foto/Net

RMOL. Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gajah Mada (UGM) Fahmy Radhi me­nyayangkan pemberian per­panjangan Izin Usaha Pertam­bangan Khusus (IUPK) kepada PT Freeport Indonesia. Menu­rutnya, perpanjangan IUPK memperlemah posisi tawar pemerintah dalam melakukan negosiasi.
"Perpanjangan IUPK untuk sekian kalinya membuat Freeprot merasa tidak ada urgensinya untuk cepat menyelesaikan proses perundingan. Tapi karena sudah telanjur diperpanjang, ya sudahlah. Saya harap ini yang terakhir kalinya," kata Fahmy kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.

Fahmy meminta, pemerintah segera menyelesaikan proses perundingan dengan Freeport sebelum 30 Juni. Dia mengingatkan, sudah saatnya pemerintah bersikap tegas. "Sampaikan kepada Freeport take it or leave it," tegasnya.

Fahmy memahami tidak memperpanjang IUPK memi­liki risiko yang besar baik ekonomi, sosial dan politik. Namun demikian, pemerintah harus mengambil keputusan.

Sekadar informasi, perpan­jangan IUPK didapatkan Free­port pada tanggal 28 Desember 2017. Izin tersebut berlaku sampai 30 Juni 2018.

Menurut Juru bicara Free­port Indonesia Riza Pratama, perpanjangan IUPK didapat­kan Freeport setelah mengaju­kan permohonan kepada Ke­menterian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Hal itu dilakukan karena IUPK yang dikantongi Freeport akan berakhir pada 10 Januari 2018.

Selain itu, Freeport juga membutuhkan perpanjangan IUPK agar kelangsungan operasi perusahaan di Papua tetap bisa berjalan. Kemarin, Riza menyampaikan bahwa pihaknya sedang mengajukan rekomendasi ekspor.

Sementara itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menerang­kan, pemerintah memutuskan untuk memperpanjang IUPK karena hingga saat ini proses negosiasi dengan PT Freeport Indonesia belum rampung.

"Mengenai extention IUPK sampai Juni 2018, ini adalah bagian dari proses kita memfinalkan keempat komponen dari proses negosiasi," ungkap Sri Mulyani, baru-baru ini.

Sekadar informasi, sampai saat ini belum ada keputusan final mengenai empat poin yang sedang dirundingkan. Yakni, perubahan izin dari Kontrak Karya (KK) menjadi IUPK, pembangunan fasilitas pemur­nian dan pengolahan mineral (smelter ), stabilisasi investasi, dan skema divestasi. ***


Komentar Pembaca
2017-2018, Pemerintah Tambah Utang Rp 1,47 Triliun Per Hari<i>!</i>
Gaduh Impor Beras, Nasdem Minta Jokowi Duduk Bersama Buwas Dan Enggar
Prihatin, Mandiri Tunas Finance Restrukturisasi Kredit Pelanggannya Di Lombok
Fahri: Waspada Pak Jokowi, Ada Tikus Mati Di Lumbung Padi<i>!</i>
Gaduh Impor Pangan, Salah Jokowi<i>!</i>

Gaduh Impor Pangan, Salah Jokowi!

JUM'AT, 21 SEPTEMBER 2018

Gudang Bulog Penuh

Gudang Bulog Penuh

JUM'AT, 21 SEPTEMBER 2018

Grup Tari Saman Tuna Netra Pecahkan Rekor MURI
Massa Pro Dan Kontra Jokowi Bentrok

Massa Pro Dan Kontra Jokowi Bentrok

, 20 SEPTEMBER 2018 , 19:00:00

Ratusan Mahasiswa Bergerak Ke Istana Tuntut Presiden Jokowi Turun Tahta
Peluncuran Tagar #2019TetapPancasila

Peluncuran Tagar #2019TetapPancasila

, 13 SEPTEMBER 2018 , 16:15:00

HMI Demo Jokowi

HMI Demo Jokowi

, 14 SEPTEMBER 2018 , 03:12:00