Hanura

Ekonomi Nasional Dijamin Selalu Bugar

Perry Warjiyo Suguhi Jamu Pahit Manis

 KAMIS, 07 JUNI 2018 , 09:00:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Ekonomi Nasional Dijamin Selalu Bugar

Perry Warjiyo/Net

RMOL. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (BI) berjanji akan membawa institusinya selalu berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan mengantongi lima bauran kebijakan, yang kemudian disebutnya sebagai jamu, Perry yakin BI bisa mencapai stabilitas sekaligus pertumbuhan ekonomi.
 Perry mengisahkan, sekitar 2003 hingga 2005, BI selalu mengedepankan kebijakan mon­eter. Namun kemudian pada 2010, Perry menciptakan lima bauran kebijakan. Lima jamu tersebut adalah kebijakan mon­eter, makroprudensial, akselerasi pendalaman pasar keuangan, sys­tem pembayaran, dan ekonomi keuangan syariah. "Jamu-jamu inilah yang bisa menciptakan kontribusi nyata untuk pertumbu­han ekonomi nasional lima tahun ke depan," tuturnya.

Lima bauran kebijakan terse­but juga diyakininya lebih cocok untuk menghadapi situasi seka­rang, di mana kondisi ekonomi lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal. Karena itu langkah BI sering berbeda dengan Bank Sentral negara lain, yang hanya fokus pada kebijakan stabilitas.

"Central Bank negara lain mereka cuma mengurus soal sta­bilitas nilai tukar mata uangnya dan suku bunga acuan. Tetapi BI tidak bisa begitu. Kita harus sin­ergi dengan pemerintah dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan), untuk ikut mendorong pertumbuhan ekonomi," jelasnya.

Ia mengakui, dari lima bauran kebijakan yang diterapkannya, tak semua rasanya manis. Ada satu jamu pahit yang mau tidak mau harus 'ditelan' jika memang dibutuhkan. Jamu tersebut adalah kebijakan moneter, yang me­mang pro stabilitas tetapi selalu membuat pertumbuhan minus. Dengan begitu, ekonomi na­sional dijamin selalu bugar.


Seperti diketahui, pada Mei ke­marin BI menggelar dua kali rapat dewan gubernur (RDG). Hasilnya, rapat memutuskan kenaikan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate (repo rate) masing-masing 25 bps. Sehingga repo rate kini menjadi 4,75 persen.

"Tapi sejak 24 Mei (kenaikan repo rate kedua), kami selalu meng-combine agar jamu pa­hit tadi tadi tidak merembet pada hal-hal lain. Alhamdulillah tingkat inflasi Mei rendah, yaitu 3,23 persen. Cadangan devisa juga terjaga, yaitu sebesar 124,9 miliar dolar. Nilai ini 22 persen lebih tinggi daripada yang dibu­tuhkan," beber Perry.

Pada Mei pula pihaknya men­catat ada Rp 13 triliun dana masuk ke Indonesia (inflow), khususnya ke surat berharga negara. Jumlah itu diharapkan akan terus meningkat.

Dengan ada kenaikan repo rate dan aliran dana masuk, sejauh ini mampu menambah kepercayaan ke pasar dan mendorong pengua­tan nilai tukar rupiah.

"Instrumen moneter menjadi prioritas BI untuk upaya men­jaga stabilitas di tengah gejolak perekonomian global dewasa ini," ujarnya.

Terpisah, Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia Rodrigo A Chaves memuji Perry. Menurutnya, kerangka kebijakan ekonomi makro yang diambil BI ibarat penyangga terhadap pen­ingkatan volatilitas global.

"Kebijakan moneter telah ber­jalan dengan baik, menjaga suku bunga riil di wilayah positif dan mempertahankan ekspektasi in­flasi. Belum lama ini, meskipun inflasi stabil, BI menaikkan suku bunga sebanyak dua kali, sebe­sar 25 bps setiap kalinya, untuk memberi sinyal bagi komitmen­nya terhadap stabilitas," ucap­nya di acara diskusi ekonomi di Jakarta, Selasa sore (5/6).

Chaves menuturkan, cadan­gan devisa yang mencapai ting­kat tertinggi (record level), dan perjanjian pertukaran bilateral memungkinkan BI mempertah­ankan nilai rupiah.

"Selain itu, nilai rupiah secara efektif tetap 5,3 persen lebih kuat dari pada nilai di Januari 2014 waktu itu, menyusul akibat yang berkepanjangan dari apre­siasi ril yang terjadi pasca Taper Tantrum," jelas dia.

Chaves bilang, langkah-lang­kah makroprudensial, terutama yang terkait dengan lindung nilai (hedging) terhadap ek­sposur mata uang asing oleh korporasi, telah berkontribusi terhadap ketahanan.

Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk Adrian Pang­gabean berpendapat, sejalan dengan kenaikan repo rate, maka valuasi teoretis yield obligasi 10 tahun Indonesia pada Juni be­rada di antara 7,20-7,50 persen.

"Itu artinya bunga yield tinggi diharapkan bisa mendorong obligasi dan berimbas pada masuknya dana asing," tuturnya kepada Rakyat Merdeka.

Saat ini pasar surat utang In­donesia yang masuk kalkulasi Barclays Bloomberg Global Bond Index memiliki potensi bobot sebe­sar 0,3 persen. Jika bobot tersebut efektif per 1 Juni 2018, Adrian memproyeksikan investor akan kembali masuk ke pasar modal.

Dengan pertimbangan tersebut dan di bawah asumsi obligasi glob­al Indonesia tenor 5 tahun tetap be­rada di kisaran 110-125 bps, maka ia memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp 13.800-14 ribu selama Juni. ***


Komentar Pembaca
Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

, 22 JUNI 2018 , 11:00:00

Rachmawati: Ada Deal Politik Di SP3 Kasus Sukma
Foto Skuad Cendana

Foto Skuad Cendana

, 15 JUNI 2018 , 18:53:00

Selamat Lebaran Dari Sudrajat

Selamat Lebaran Dari Sudrajat

, 15 JUNI 2018 , 13:04:00

Kebersamaan Di Hari Raya

Kebersamaan Di Hari Raya

, 15 JUNI 2018 , 08:43:00