Hanura

Rupiah Masih Berpotensi Letoy Bulan Ini

Jauhi Rp 14 Ribu Per Dolar

 SELASA, 05 JUNI 2018 , 09:33:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Rupiah Masih Berpotensi Letoy Bulan Ini
RMOL. Rupiah akhirnya unjuk gigi setelah sempat melampaui Rp 14 ribu per dolar AS. Penguatan ini dipercaya dampak dari kenaikan suku bunga acuan 50 basis poin (bps).
Berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah berada di angka Rp 13.872 per dolar AS kemarin. Rupiah menguat jika dibandingkan dengan patokan pada Kamis (31/5) yang tercatat Rp 3.951 per dolar AS.

Analis Senior Binaartha Seku­ritas Reza Priyambada melihat, rupiah mampu kembali menga­lami kenaikan seiring imbas dari penguatan Euro, pasca kisruh politik di Italia mulai mereda.

Selain itu, kata Reza, adanya prediksi dari lembaga keuangan asing yang menilai penguatan dolar AS terhadap rupiah tidak akan berlangsung lama.

"Hal itu turut memberikan angin segar, sehingga rupiah dapat memanfaatkannya untuk kembali bergerak positif," ucap Reza kepada Rakyat Merdeka.

Bahkan Morgan Stanley per­nah memberikan keyakinan, bahwa yield US Treasury 10 tahun, sepertinya tidak akan ber­tahan di atas 3 persen dan akan turun ke 2,85 persen pada kuar­tal keempat 2018 dan ke 2,75 persen pada kuartal II-2019.

Terpisah, Chief Economist PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede mengatakan, faktor domestik dan musim pembayaran dividen yang akan berakhir, bakal memberikan sentimen positif, yang pada akhirnya mampu menopang rupiah. Sehingga mata uang Garuda tak tertekan terlalu dalam.

Meski begitu, imbuhnya, po­tensi rupiah sedikit melemah juga masih bisa terjadi, lan­taran pelaku pasar menanti hasil pertemuan rapat terbuka bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) atau Federal Open Market Committee (FOMC) pada 12-13 Juni 2018.

Ia memperkirakan, bank sen­tral AS atau The Federal Reserve akan menaikkan suku bunga 25 bps pada pertemuan terse­but. Apalagi, dari notulensi pada pertemuan Mei cenderung dovish. Dan pada FOMC men­datang, pasar perkirakan ada kenaikan suku bunga satu kali lagi pada Juni 2018.

"Diperkirakan kenaikan FFR sebanyak tiga kali pada 2018. Ini yang akan menopang dolar Amerika Serikat," ucapnya.

Dengan adanya sentimen itu, sambung Josua, membuat pelaku pasar menanti rilis data ekonomi, yakni neraca perda­gangan dan transaksi berjalan. Ini akan kembali memicu rupiah masih akan berada di posisi Rp 13.900-14 ribu per dolar AS.

Gubernur BI Perry Warjiyo sendiri meyakinkan, pihaknya akan meningkatkan pengawasan dan mitigasi terhadap potensi keluarnya modal asing, yang bisa menggerus nilai tukar ru­piah terutama jelang FOMC pada pertengahan bulan ini.

"Jika ingin melakukan respon cepat, Rapat Dewan Gubernur bisa ditambah. Di samping juga sekaligus langkah pre-emptive (antisipasi) serta ahead the curve (tantangan yang akan datang) un­tuk FOMC nanti," ucap Perry.

Menurut Perry, BI akan tetap memperkuat dan mengoptimalkan intervensi ganda yang sudah dilaku­kan sejak 2013. Tak hanya itu, BI juga memastikan suplai dolar dan valuta asing tetap aman serta men­jaga stabilitas pasar surat berharga.

"Kami juga menjaga kecukupan likuiditas, baik valas maupun ru­piah. Serta melakukan komunikasi yang intensif dengan pelaku pasar, perbankan, dunia usaha, juga ekonom untuk membangun eks­pektasi yang rasional," tuturnya.

Antisipasi Perbankan

Direktur Manajemen Risiko PT Bank Negara Indonesia (Per­sero) Tbk Bob Tyasika Ananta mengakui, masih rentannya ru­piah, memang berpengaruh pada bisnis treasury. Saat ini bisnis tersebut di bank terbagi men­jadi dua. Pertama adalah bisnis treasury untuk mengamankan kekayaan bank.

Sedangkan fungsi kedua ada­lah sebagai unit bisns yang menghasilkan keuntungan.

"Namun sebagai unit bisnis, biasanya manajemen di treasury sudah mengantisipasi terkait fluktuasi kenaikan dan penu­runan nilai tukar," katanya saat ditemui Rakyat Merdeka.

Sehingga, kata Bob, meskipun nilai tukar melemah atau menguat, bisnis treasury tetap bisa menghasilkan keuntungan. Fee based income (pendapatan non­bunga) dari treasury, diperkira­kan akan mengalami kenaikan seiring fluktuasi kurs.

Selain itu, bisnis yang berpo­tensi terdorong pelemahan ru­piah adalah bisnis hedging atau nilai lindung mata uang.

"Hal ini karena dengan pele­mahan rupiah, diproyeksi layanan hedging nasabah akan naik. Saat ini sebagai gambaran, portofolio valas menyumbang 15 persen dari total bisnis BNI," tuturnya. ***


Komentar Pembaca
Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

, 22 JUNI 2018 , 11:00:00

Rachmawati: Ada Deal Politik Di SP3 Kasus Sukma
Foto Skuad Cendana

Foto Skuad Cendana

, 15 JUNI 2018 , 18:53:00

Selamat Lebaran Dari Sudrajat

Selamat Lebaran Dari Sudrajat

, 15 JUNI 2018 , 13:04:00

Kebersamaan Di Hari Raya

Kebersamaan Di Hari Raya

, 15 JUNI 2018 , 08:43:00