Hanura

PDIP Nilai Pelemahan Rupiah Terhadap Dolar AS Ada Sisi Baik

 SABTU, 05 MEI 2018 , 02:53:00 WIB | LAPORAN: UJANG SUNDA

PDIP Nilai Pelemahan Rupiah Terhadap Dolar AS Ada Sisi Baik

Foto/Net

RMOL. Kondisi rupiah saat ini sedang sangat anjlok. Nilai tukarnya sudah hampir menyentuh Rp14.000 per dolar AS. Banyak yang khawatir dengan kondisi ini. Namun, di mata Anggota Komisi XI DPR Hendrawan Supratikno, kondisi memiliki sisi yang menguntungkan.
Politisi senior PDIP ini mengakui, anjloknya rupiah berimbas bagi industri yang bahan bakunya dari luar negeri. Dengan anjloknya rupiah, barang-barang menjadi lebih mahal. Namun, bagi eksportir, hal ini justru menguntungkan. Turunnya rupiah dan naiknya dolar membuat harga jual barang ekspor menjadi lebih bagus.

"Kondisi ini justru menguntungkan bagi eksportir. Mereka menjadi mendapatkan rupiah lebih banyak dalam penjualan yang sama. Jadi, ini peluang juga untuk genjot ekspor kita," kata Hendrawan di Jakarta, Jumat (4/5).

Namun demikian, dia mengaku tidak ingin kondisi ini berlama-lama. Dia meminta Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan terus mewaspadai pergerakan dolar. BI harus segera mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga agar nilai tukar rupiah tetap dalam batas-batas yang wajar. Langkah ini diperlukan agar kepercayaan masyarakat terhadap rupiah tetap terjaga.

"Jadi, kami di Komisi XI tentu meminta BI segera mengambil langkah-langkah yang diperlukan agar volatitlitas rupiah atau pergerakan naik turunnya masih dalam batas-batas yang wajar. Jangan sampai pergerakannya liar sehingga menimbulkan ketidakpastian dan ketidakpercayaan pasar," ujarnya.

Hendrawan kemudian menjelaskan kondisi global yang terjadi saat ini. Kata dia, yang sedang letoy menghadapi dolar AS bukan cuma rupiah. Mata uang negara-negara lain juga sama. Dalam hitungannya, kondisi rupiah masih lebih baik dibanding baht (Thailand) atau peso (Filipina). Prosentase penurunan dua mata uang tersebut lebih besar ketimbang rupiah.

"Sebenarnya kita relatif masih lebih baik. Tapi, karena satuannya dolar itu mencapai Rp 13 ribu sekian, sehingga kita kelihatannya besar. Itulah sebabnya dari dulu BI selalu usulkan redenominasi rupiah dengan mengurangi tiga angka nol di belakangnya," katanya.

Menguatnya dolar ini, sambung Hendrawan, terjadi karena persepsi pasar global terhadap kebijakan The Fed, Bank Central AS, yang menaikkan suku bunga dengan frekuensi yang lebih cepat. Dengan kenaikan suku bunga itu, banyak dolar yang bertebaran di berbagai negara kembali ke AS. Para pengusaha yang berimvestasi di berbagai negara menarik modalnya untuk kemudian ditanamkan di AS.

 "Ini yang memang selalu merepotkan kita," ujarnya.

Jika kondisi ini berjalan lama, tambah Hendrawan, bisa memukul industri dalam negeri. Sebab, banyak industri dalam negeri yang menggunakan bahan baku dari impor. Kondisi itu bisa membuat modal produksi membengkak. Ujung-ujungnya, pelaku menaikkan harga juga.

"Ini bisa menyebabkan inflasi," pungkasnya. [nes]

Komentar Pembaca
Komunitas Tionghoa Kapok Dukung Jokowi
Elza Syarief - Keadilan (Bag.4)

Elza Syarief - Keadilan (Bag.4)

, 24 MEI 2018 , 14:00:00

Maradona Dampingi Maduro

Maradona Dampingi Maduro

, 18 MEI 2018 , 02:14:00

Buka Puasa Bersama Di Istiqlal

Buka Puasa Bersama Di Istiqlal

, 17 MEI 2018 , 19:22:00

Penghargaan

Penghargaan "Inspirator Bangsa"

, 17 MEI 2018 , 05:56:00