Hanura

Rupiah Melemah, Legislator: Ada Pengelolaan Domestik Yang Keliru!

 KAMIS, 26 APRIL 2018 , 08:47:00 WIB | LAPORAN: BUNAIYA FAUZI ARUBONE

Rupiah Melemah, Legislator: Ada Pengelolaan Domestik Yang Keliru<i>!</i>

Foto: Net

RMOL. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah. Dolar AS kini diperdagangkan di kisaran Rp 13.900, nyaris Rp 14 ribu.
Anggota Komisi XI DPR, Heri Gunawan tidak setuju jika faktor eksternal dijadikan alasan pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS akhir-akhir ini.

"Pemerintah tak boleh terus-terusan menggeser kesalahan internal menjadi faktor ekternal dan bukan juga dipolitisir. Ini bukan melulu karena kebijakan The Fed, tapi juga karena pengelolaan domestik yang keliru," kata Heri dalam keterangannya, Kamis (26/4).

Heri mencermati ada pengelolaan yang keliru di internal meliputi soal account defisit, primary balance defisit, service payment defisit. Hal tersebut bermula dari kesulitan pemerintah menghindari atau menekan defisit keseimbangan primer (primary balance defisit) yang berimbas kepada defisit APBN (account defisit) dan defisit pembayaran.

"Untuk diketahui utang jatuh tempo sekitar Rp 800 triliun pada tahun ini dan tahun depan telah menjadi penyebab defisitnya keseimbangan primer kita," jelasnya.

Di sisi lain, lanjut Heri, pertumbuhan realisasi penerimaan pajak dalam tiga tahun terakhir hanya empat persen, tidak sebanding dengan kenaikan kewajiban utang.

Defisit keseimbangan primer itu disebabkan oleh defisit anggaran (account defisit) yang semakin lebar. Ketika defisit anggaran melebar, artinya ada belanja yang tidak bisa ditutupi oleh pendapatan negara.

"Defisit itulah yang kemudian ditutup oleh penambahan utang baru, utang setiap tahun bertambah lebih dari Rp. 430 triliun," urainya.

Keseimbangan primer merupakan total pendapatan negara dikurangi belanja negara di luar pembayaran bunga utang. Apabila keseimbangan primer negatif atau defisit, jelas Heri, pemerintah harus menerbitkan utang baru untuk membayar pokok dan bunga utang lama, alias gali lubang tutup lubang.

Sementara utang pemerintah akhir Maret 2018 lalu meroket jadi Rp 4.136 triliun dengan Tax Ratio 9,9 persen, turun setiap tahunnya.

Tahun 2012 hingga 2017, keseimbangan primer terus mencatat defisit dengan nilai yang kian meningkat. Pada tahun ini, keseimbangan primer ditargetkan masih negatif atau minus Rp 78,35 triliun.

"Pada ujungnya, defisit keseimbangan primer itu akan menguras habis cadangan devisa kita untuk membayar hutang (service payment defisit) sehingga berimbas pada rupiah yang makin terpuruk," ujarnya.

Sekadar informasi, pada tahun 2011 rasio antara pembayaran cicilan pokok plus bunga dibagi dengan penerimaan pajak masih 25,6 persen. Namun sejak 2016 naik menjadi 31 persen. "Ini artinya, penerimaan pajak untuk membayar bunga utang dan cicilan pokok sudah menguras 31 persen dari total penerimaan pajak, dengan tax ratio," jelas Heri.

Heri menekankan, kuncinya adalah membenahi tiga ancaman defisit tersebut dan tidak melulu menggeser masalah pada faktor eksternal.

Ia sangat menyayangkan pemerintah selalu berkilah keuangan negara masih aman padahal sudah dikatakan lampu kuning akibat utang membengkak dan terjadinya bermacam defisit.

"Sekali lagi, benahi," tegasnya.[wid]



Komentar Pembaca
Komunitas Tionghoa Kapok Dukung Jokowi
Elza Syarief - Keadilan (Bag.4)

Elza Syarief - Keadilan (Bag.4)

, 24 MEI 2018 , 14:00:00

Maradona Dampingi Maduro

Maradona Dampingi Maduro

, 18 MEI 2018 , 02:14:00

Buka Puasa Bersama Di Istiqlal

Buka Puasa Bersama Di Istiqlal

, 17 MEI 2018 , 19:22:00

Penghargaan

Penghargaan "Inspirator Bangsa"

, 17 MEI 2018 , 05:56:00