Hanura

Bank Sentral Terus Kawal Stabilitas Rupiah

Dolar Nyaris Tembus Rp 14.000

 JUM'AT, 09 MARET 2018 , 10:08:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Bank Sentral Terus Kawal Stabilitas Rupiah

Foto/Net

RMOL. Kondisi rupiah yang terus menurun dirasa bakal berlanjut hingga beberapa bulan ke depan. Bank Indonesia (BI) diharapkan segera melakukan intervensi agar rupiah tak terus terpuruk.
 Pelemahan kurs rupiah juga terjadi pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JIS­DOR) yang dirilis Bank Indonesia (BI). Kurs rupiah kemarin, berada di level 13.774 per dolar AS, turun dibandingkan posisi Rabu (7/3) Rp13.763 per dolar AS. Rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah meski diharapkan dapat terbatas seiring adanya pelemahan pada dolar AS.

Menurut Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada, posisi rupiah yang masih berada di area supportnya juga dapat menjadi faktor penahan. Untuk itu, diharapakan pelemahan yang terjadi dapat lebih terbatas agar rupiah dapat menemukan momentum kenaikannya.

"Memang nampaknya rupiah harus tetap dicermati dan was­pada jika masih adanya pelema­han lanjutan," kata Reza kepada Rakyat Merdeka.

Pelemahan rupiah terlihat mu­lai terbatas seiring dengan penu­runan jumlah cadangan devisa (cadev) yang diperkirakan di­gunakan BI untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Begitupun dengan turunnya penempatan valas perbankan di Bank Sentral karena adanya kebutuhan di masyarakat.

Jumlah cadangan devisa Feb­ruari 2018 senilai 128,06 miliar dolar AS. Angka tersebut selisih 3,92 miliar dolar AS jika dibandingkan posisi Januari kemarin yang sebesar 131,98 miliar.

Di sisi lain, pemberitaan mengenai mundurnya pejabat ekse­kutif di pemerintahan Presiden AS Donald Trump akibat kebi­jakan proteksionisnya, member­ikan sentimen negatif pada nilai tukar dolar AS yang cenderung turun tipis. Namun demikian, kondisi tersebut tidak banyak berimbas pada pergerakan ru­piah yang tetap melemah.

Tak jauh berbeda, ekonom Institute Development of Eco­nomic and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara memperkirakan, pelemahan rupiah masih akan terus terjadi hingga pada akhir Maret ini. Titik terendah pelemahan rupiah bisa mencapai Rp 14 ribu per dolar AS di tahun ini.

"Bisa tembus Rp 14 ribu. Pelemahan rupiah terjadi karena kebijakan Bank Sentral AS untuk menaikkan tingkat suku bunga acuan pada tahun ini sebanyak tiga kali," ujarnya kepada Rakyat Merdeka.

Bhima bilang, Gubernur The Fed baru Jerome Powell mengi­syarakatkan suku bunga akan naik dalam waktu dekat. Bahkan bisa sampai tiga kali kenaikannya untuk tahun ini. Powell mengkonfir­masi bahwa Fed solid melakukan pengetatan moneter dan normalisasi balance sheet-nya tahun ini.

"Kebijakan Fed ini juga memicu bank sentral negara maju, seperti ECB (European Central Bank) dan BOJ (Bank of Japan) melakukan pengetatan moneter," tutur Bhima.

Sementara dari dalam negeri, faktor seperti inflasi Februari yang rendah di level 0,17 persen dan laporan keuangan beberapa emiten yang positif dianggap­nya, tidak bisa menahan pen­jualan dari investor asing.

"Aliran modal asing keluar dari pasar modal Indonesia saat ini mencapai Rp 12,2 triliun (year to date). Untuk industri farmasi dan kimia merupakan dua sektor yang terkena dampak pelemahan rupiah saat ini," katanya.

Bhima menambahkan, indus­tri yang terkena dampak adalah industri yang kandungan bahan baku impornya cukup besar. Salah satunya industri farmasi, kimia, dan tekstil. "Ketika ru­piah lemah, daya saing langsung merosot. Jadi tidak benar kalau pelemahan rupiah pasti untung­kan ekspor,"  ujarnya.

Menyoal ini, Gubernur BI Agus DW Martowardojo menya­takan, Bank Sentral senantiasa menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. "Bank Indonesia akan tetap berada di pasar secara teru­kur untuk mengawal terciptanya stabilitas rupiah, sehingga kepas­tian dan keyakinan masyarakat terhadap perekonomian nasional tetap terjaga dengan baik," kata Agus dalam keterangan persnya yang diterima Rakyat Merdeka.

Ia menegaskan, BI secara kon­sisten dan berhati-hati merespons dinamika pergerakan nilai tukar rupiah yang sedang berlangsung, untuk memastikan stabilitas mak­roekonomi dan sistem keuangan tetap terjaga. Sehingga keber­langsungan pemulihan ekonomi dapat berlanjut.

"Respons BI ditempuh untuk mengelola dan menjaga fluktuasi (volatilitas) nilai tukar rupiah agar tetap sejalan dengan kondisi fundamental makroekonomi do­mestik, dengan juga memperha­tikan dinamika pergerakan mata uang negara lain,"  ucap Agus.

Dengan perekonomian Indo­nesia yang semakin terintegrasi dengan sistem keuangan global, dinamika nilai tukar rupiah saat ini merupakan dampak langsung dari kondisi ekonomi global yang terus mengalami pergeseran. Kebijakan moneter global saat ini, khusus­nya di Amerika Serikat, tengah memasuki era peningkatan suku bunga dan rezim kebijakan fiskal yang lebih ekspansif. ***

Komentar Pembaca
Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

, 22 JUNI 2018 , 11:00:00

Rachmawati: Ada Deal Politik Di SP3 Kasus Sukma
Foto Skuad Cendana

Foto Skuad Cendana

, 15 JUNI 2018 , 18:53:00

Selamat Lebaran Dari Sudrajat

Selamat Lebaran Dari Sudrajat

, 15 JUNI 2018 , 13:04:00

Kebersamaan Di Hari Raya

Kebersamaan Di Hari Raya

, 15 JUNI 2018 , 08:43:00