Hanura

Serasa Off Road Di Papua Barat

Jonan Berpacu Di Jalur Berbatu Demi Listrik Dan BBM Satu Harga

 KAMIS, 15 FEBRUARI 2018 , 01:26:00 WIB | OLEH: RATNA SUSILOWATI

Serasa Off Road Di Papua Barat
PERHATIAN Presiden terhadap Papua begitu besarnya. Infrastruktur terus dibangun, wilayah yang gelap diterangi dan akses terisolir dibuka.
Sepanjang Selasa (13/2), Menteri ESDM Ignasius Jonan turun ke Papua Barat dan melakukan banyak aktifitas untuk rakyat di Kabupaten Tambrauw.

Atas nama Presiden, Jonan meresmikan Bandara Werur. Lalu untuk meningkatkan rasio elektrifikasi, Jonan meresmikan pembangkit listrik tenaga mikro hidro di Warabiai dan menyerahkan lampu tenaga surya untuk 12 Desa, sebanyak 529 unit. Jonan juga mengunjungi Pelabuhan Sausapor dan SPBU BBM satu harga yang menyediakan solar dan premium.

Untuk mengakses Kabupaten Tambrauw, Jonan terbang tengah malam dari Jakarta dan mendarat di Sorong pukul 7 pagi. Istirahat sebentar di Bandara Domine Eduard Osok, perjalanan berlanjut menggunakan pesawat perintis SusiAir selama 30 menit menuju Tambrauw. Di sana disambut oleh Gubenur Papua Barat, Bupati, Tambrauw Gabriel Asem, anggota DPR asal Papua Michael Watimena dan Jimmy Demianus Ijie. Jonan ditemani anggota DPR Peggi Patrisia Pattipi dan sejumlah pejabat Kementerian. Dari Kemenhub ada Direktur Angkutan Udara Maria Kristi Endah dan dari PLN ada Direktur Bisnis Regional Maluku-Papua Ahmad Rofik.

Bandara Werur memiliki runaway dengan panjang 1400 x 30 meter dan terminal penumpang seluas 600 meter persegi. Posisinya di pinggiran pantai sehingga pemandangan jelang landing menakjubkan. Pembangunan dimulai 2012, menggunakan APBD, dan dilanjut biaya APBN Kementerian Perhubungan di era Jonan tahun 2014. Total biayanya sekitar Rp 15 miliar.

Jonan berharap, akan ada penerbangan komersial masuk ke Tambrauw, setidaknya 1 kali sehari. Bupati punya cita-cita wilayahnya jadi salah satu destinasi wisata di Sorong karena banyak spot keren di tempatnya. Ombak bagus untuk surving, spot penyu belimbing, dan pantai yang indah. Di Kampung Werur juga banyak ditemukan sisa Perang Dunia 2. Termasuk Bandara Werur, peninggalan sekutu tahun 1942.

Dari Werur, Jonan bergerak menuju Waraibai, sekitar satu jam berkendara. Untuk ukuran kabupaten, apalagi di pelosok Papua Barat, membangun pembangkit mikrohidro dengan kapasitas 1,6 MW menggunakan APBD tentu termasuk prestasi besar. Menteri Jonan memuji Bupatinya. "Pak Bupati ini pasti lebih banyak tinggal di daerahnya kan? Karena kalau pergi-pergi lewat bandara kan ketahuan di CCTV bandara. Baiknya, kepala daerah memang jangan sering ke Jakarta kalau urusannya tidak terlalu penting," katanya, sambil senyum.

Sampai Desember 2017, rasio elektrifikasi di Papua Barat sudah mencapai 86 persen. "Papua dan Papua Barat bisa 99 persen di 2020," kata Jonan penuh keyakinan.

Untuk mencapai target itu, Jonan memperhatikan betul setiap rumah yang dilalui di perjalanan. Kalau terlihat belum ada lampu, langsung dia instruksi staf-stafnya. Kirim dan pasang lampu tenaga surya. Itu gratis untuk rakyat. Bisa dipakai 3 tahun, sambil menunggu jaringan PLN masuk. Harga lampu sampai pasang sekitar 3,8 jutaan.

"Biaya transport akomodasi pejabat daerah Papua ke Jakarta, mungkin bisa biayai lampu surya di 10 rumah," ujar Jonan, berseloroh tapi ada benarnya.

Dari Waraibai, Jonan menuju Pelabuhan Sausapor. Sepekan dua kali, ada kapal berlayar menuju Sorong, dengan jarak tempuh sekitar 6 jam. Tak jauh dari situ dibangun SPBU, menjual Premium dan Solar. Harganya sama dengan Jakarta. "Dulu ngga bisa Rp 6.450 per liter. Harga bisa Rp 15 ribu bahkan lebih," kata seorang pengendara yang isi bensin.

Pasokan BBM di SPBU ini perhari sekitar 550 liter premium dan 1 ton liter solar. "Kita harus berterimakasih pada Presiden Jokowi ya," kata Pak Jonan pada pengendara itu. Program BBM satu harga sudah jalan di Papua.

Kembali ke Kota Sorong, Menteri Jonan memilih jalur darat. Perjalanan yang seru sepanjang 150 kilometer ditempuh 4 jam. Kalau jalanan mulus, mungkin bisa hanya 1,5-2 jam. Tapi ini jalur yang cukup sulit. Bebatuannya berloncatan mengenai body mobil. Bunyinya keletek-keletek, bahkan sampai glutak glutuk mengagetkan.

Rombongan dengan pengawalan berpacu seperti sedang off road. Debu jalanan berterbangan menutup pandangan mata, mirip kabut, dilengkapi aroma kanvas rem. Terbayang, jika hujan, pasti jalanan jadi becek, berlumpur dan licin.

Sambil berseloroh salah satu staf Kementerian bilang, "sepertinya kita semua harus pakai helm nih dalam mobil," katanya. Maklum, sepanjang jalan selain perut serasa dikocok, badan bergoyang, kepala juga terpentok-pentok. Menteri Jonan ada dalam kendaraan Jeep milik Bupati yang diberi plat RI 34. Lainnya menggunakan SUV.

Di sejumlah titik, ada jalanan yang diaspal beberapa kilometer tapi lalu terputus dan kembali berbatuan. Setengah perjalanan, konvoi Menteri terhenti hampir satu jam. Ada truk terperosok, posisinya melintang menghalangi jalanan. Kondisinya cukup berbahaya karena jalan licin berbatu dengan tanjakan curam. Hanya tersisa sedikit celah untuk kendaraan bisa melintas jalan. Satu persatu, bergantian, mobil rombongan menerobos jalur tersebut.

Kalau bukan jenis 4 wheel, sepertinya agak sulit bisa menembus medan seperti itu. Tapi yang membuat hati senang, pemandangan di sepanjang jalan. Hutan yang hijau, diselingi pantai dengan deburan ombak. Jelang sore, bisa melihat sunset yang bagus sekali.

Kenapa infrastruktur jalanan ini tidak dibangun dengan baik? Aspalnya hanya sepotong-potong. Padahal ini akses utama untuk pengiriman logistik dan BBM. Jalur lain lewat laut.

Menurut Bupati, akses Tambrauw-Sorong termasuk program jalan nasional. Yang diaspal hanya sekitar 63 kilometer. Sisanya hampir 100 kilometer kondisinya parah. "Ini harusnya dicek oleh Kementerian PUPR," katanya. Akibat, akses buruk, di Fef, ibukota Tambrauw, harga semen masih tinggi.

Sampai di Sorong, hari sudah gelap. Semua kendaraan rombongan belepotan lumpur. Banyak wajah lelah, tapi Jonan masih penuh stamina.

Besoknya, dia datang ke Terminal BBM Sorong. Tak sekadar meninjau, Jonan juga mencarikan jalan keluar persoalan, pelabuhan BBM yang lokasinya amat dekat dengan pelabuhan rakyat. "Kalau lokasi berdekatan, lalu di pelabuhan rakyat ada yang merokok atau memasak dengan gas itu bisa membahayakan," katanya. Karenanya, sebelum meninggalkan Sorong, Jonan menyempatkan ketemu stakeholder terkait pelabuhan. Pejabat dari Pertamina, Perhubungan dan pejabat kota Sorong. Kelihatannya masalah bisa diselesaikan, pelabuhan rakyat akan digeser agar jaraknya aman dengan dermaga BBM. Mungkin karena pernah menjabat sebagai Menteri Perhubungan, sehingga banyak problem terkait konektivitas untuk kelancaran program BBM satu harga jadi lebih mudah diselesaikan.

Dari Sorong Jonan menuju Ambon. Dia diundang bicara di depan ribuan mahasiswa HMI. Begitulah aktifitas Jonan. Jadwalnya padat, tapi dia tetap lincah bersemangat. Energinya seperti tak pernah habis. Rupanya memang perlu menteri energi yang berenergi tinggi supaya cita-cita Presiden mewujudkan energi berkeadilan cepat tercapai. [***]  

(Penulis adalah wartawan senior, Pemimpin Umum Harian Rakyat Merdeka)


Komentar Pembaca
Rocky Gerung - Pembangunan (Bag.5)

Rocky Gerung - Pembangunan (Bag.5)

, 17 MEI 2018 , 20:00:00

Rocky Gerung - Kelincahan Berfikir (Bag.4)
Prabowo Datangi Parlemen

Prabowo Datangi Parlemen

, 16 MEI 2018 , 17:38:00

Maradona Dampingi Maduro

Maradona Dampingi Maduro

, 18 MEI 2018 , 02:14:00

Terima Alumni 212

Terima Alumni 212

, 16 MEI 2018 , 18:06:00