Hanura

Vietnam Ingin Belajar Industri Pariwisata Dari Indonesia

 SENIN, 22 JANUARI 2018 , 15:45:00 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Vietnam Ingin Belajar Industri Pariwisata Dari Indonesia

Vu Tien Loc, Eddy Ganefo, Agus Agung Budiono, Petrus Chandra, Tiur Tamubolon, dan Ema/Kadin Indonesia

RMOL. Peluang bisnis Indonesia untuk berinvestasi di Vietnam sangat besar, terutama di bidang pertanian berteknologi tinggi dan promosi pariwisata.
Hal ini dikemukakan Kepala Kamar Dagang dan Industri Vietnam (VCCI/Vietnam Chamber of Commerce And Industry VCCI), Vu Tien Loc dalam pertemuan bersama Ketua Umum Kadin Indonesia, Eddy Ganefo di markas VCCI, Hanoi, pekan lalu.

"Indonesia adalah negara dengan industri pariwisata maju, jadi kami berharap dapat belajar dari anda di dalam negeri, dan bidang-bidang seperti teknologi informasi. Infrastruktur transportasi, energi bersih juga merupakan bidang kerja sama kedua negara," jelas Vu Tien Loc.

Delegasi Kadin Indonesia juga turut Agus Agung Budiono, Petrus Chandra, Tiur Tamubolon dan senator Sumatera Barat, Ema.

Dalam kesempatan itu, Eddy Ganefo pun menyampaikan rencana Indonesia mengimpor beras dari Vietnam. Menurut Eddy, dari segi biaya produksi, beras Vitenam terkenal sangat rendah.

"Oleh karena itu, kami berharap bisa belajar dari Vietnam dan berharap akan menandatangani kesepakatan kerja sama antara Kadin Indonesia dengan VCCI," pintanya.

Petrus Tyandra menambahkan, produk beras akan diimpor ke Indonesia jika terjadi kekurangan stok untuk konsumsi di dalam negeri. "Sisanya akan diekspor ke negara lain," tutur Petrus.

Vu Tien Loc menjelaskan, upah minimum untuk pekerja layanan di Vietnam berkisar 150 - 200 dolar AS. Sedangkan pendapatan minimum untuk petani adalah 100 dolar AS.

"Kami cukup beruntung memiliki iklim yang sesuai untuk budidaya padi dan sungai Mekong. Sebagian besar pekerjaan pertanian berasal dari mesin, beberapa di antaranya telah diimpor dari China," bebernya.

Secara khusus, lanjut dia, pemerintah Vietnam telah mengizinkan perusahaan asing untuk berinvestasi di bidang pertanian di Vietnam. Sebagian besar dari perusahaan mereka 100 persen dimiliki asing.

"Menurut survei VCCI dan PwC, di antara 21 negara di kawasan Asia Pasifik, Vietnam, bersama dengan AS dan China, adalah ekonomi yang paling potensial untuk investasi. Sebuah rencana aksi dan kerja sama antara dua Kamar Dagang dan Industri kedua negara di tahun-tahun mendatang," tutur Vu Tien Loc, menekankan.

Statistik menunjukkan bahwa perdagangan dua arah antara Vietnam dan Indonesia telah meningkat dari 4,6 miliar dolar AS di tahun 2012 menjadi 5,6 miliar dolar AS pada tahun 2016 dengan tingkat pertumbuhan rata-rata sekitar 5 persen per tahun

Indonesia adalah negara kelima di ASEAN dan 30 dari lima negara yang berinvestasi di Vietnam, berkonsentrasi pada bidang eksplorasi, eksploitasi minyak, pertambangan batubara.

Agus Agung Budiono berharap Kadin Indonesia juga bisa bekerja sama dengan VCCI dalam bidang batubara, khususnya anthracite coa. "Selama ini Indonesia banyak mengimpor anthracite coal dari Vietnam untuk peleburan besi dan kebutuhan smelter," kata Agus.

Untuk kerja sama ini Eddy Ganefo berharap bisa dilakukan barter. "Misalnya Indonesia mengekspor pesawat atau VCO, cocopeat dan lain-lain ke Vietnam dan Vietnam ekspor anthracite coal, dan lain-lain ke Indonesia dengan sistem barter sehingga terjadi keseimbangan perdagangan kedua negara," sambung Eddy.[wid]



Komentar Pembaca
PBB Tak Lolos Verifikasi, Yusril Laporkan KPU
Susi Pudjiastuti - Kedaulatan Laut (Bag. 4)

Susi Pudjiastuti - Kedaulatan Laut (Bag. 4)

, 19 FEBRUARI 2018 , 19:00:00

SBY Lantik AHY

SBY Lantik AHY

, 18 FEBRUARI 2018 , 00:31:00

Tumpeng Golkar Untuk OSO

Tumpeng Golkar Untuk OSO

, 13 FEBRUARI 2018 , 17:33:00

Yang Lolos Dan Tak Lolos

Yang Lolos Dan Tak Lolos

, 18 FEBRUARI 2018 , 01:23:00