Hanura

Orang Miskin 26 Juta Lagi

 KAMIS, 04 JANUARI 2018 , 09:58:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Orang Miskin 26 Juta Lagi

Foto/Net

RMOL. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin pada September 2017 sebanyak 26,58 juta orang. Jumlah ini menurun 1,19 juta orang dari Maret 2017 yang mencapai 27,77 juta orang atau 10,21 persen. Alhamdulillah, semoga saja data itu benar.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, penurunan angka penduduk miskin ini capaian yang menggembirakan. Presentase penduduk miskin menunjukkan tren penurunan sejak Maret 2011. "Pencapaian September ini yang paling bagus karena penurunannya lebih cepat kalau dibanding tujuh tahun terakhir," kata Suhariyanto di kantornya, kemarin.

Dia memaparkan, berdasarkan daerah tempat tinggal, penduduk miskin di desa lebih tinggi daripada di kota. Pada September 2017, jumlah penduduk miskin di perdesaan 16,31 juta orang alias 13,47 persen dari total penduduk miskin. Sementara di perkotaan, jumlahnya 10,27 juta orang atau 7,26 persen.

Meski masih tinggi, Suhariyanto mengatakan jumlah penduduk miskin di perkotaan dan perdesaan mengalami penurunan selama periode Maret-September 2017. Di perkotaan, jumlahnya menurun 401,28 ribu orang sementara di perdesaan turun 786,95 ribu orang.

Menurutnya, inflasi menjadi salah satu faktor yang paling mempengaruhi tingkat kemiskinan selama periode Maret-September 2017. Selama rentang waktu itu, inflasi umum relatif rendah yaitu 1,45 persen.

Faktor penyebab penurunan tingkat kemiskinan lainnya adalah upah nominal buruh tani per hari pada September yang naik 1,50 persen dibanding Maret. Angkanya naik dari Rp 49.473 menjadi Rp 50.123. Upah riil buruh tani per hari pada periode yang sama juga naik 1,05 persen dari Rp 37.318 menjadi Rp 37.711.

Sementara upah buruh bangunan per hari pun naik 0,78 persen dari Rp 83.724 menjadi Rp 84.378. Di sisi lain, upah buruh bangunan per hari di periode yang sama turun 0,66 persen dari Rp 65.297 menjadi Rp 64.867.

Selain itu, faktor lainnya adalah sejumlah harga komoditas pangan yang terkendali, ini juga membantu daya beli masyarakat. Harga beras misalnya, naik cuman 0,69 oersen dari Rp 13.125 pada Maret 2017 menjadi Rp 13.215 pada September 2017. Selain beras, komoditas lain yang berpengaruh adalah rokok kretek filter, daging sapi, telur ayam ras, mie instan dan gula pasir.

Faktor pendukung lainnya adalah penyaluran beras sejahtera. Selama Maret- September 2017, BPS mencatat rata-rata rastra sudah disalurkan kepada sekitar 30 persen rumah tangga setiap bulannya.

Sayangnya, catatan menggembirakan ini ternoda. Meski Pemerintah pusat sudah menganggarkan dana besar untuk membangun Indonesia Timur agar masyarakatnya terbebas dari kemiskinan, namun kurang begitu berhasil.

Berdasarkan data BPS, tingkat kemiskinan di Indonesia sampai September 2017 masih terpusat di Indonesia bagian Timur yakni Maluku dan Papua dengan persentase 21,23 persen.

Sementara yang terendah di Kalimantan 6,18 persen. Sedangkan persentase di Sumatera sebesar 10,44 persen, Jawa sebesar 9,38 persen, Sulawesi sebesar 10,93 persen dan Bali dan Nusa Tenggara sebesar 14,17 persen.

Dirjen Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan Boediarso Teguh Widodo menjelaskan, kemiskinan di kawasan timur perlu menjadi fokus pekerjaan pemerintah. "Kemiskinan ada di kawasan Papua, Papua barat ada Dana Alokasi Khusus dan Dana Bagi Hasil ditambah DAU Dana Alokasi Umum dan ada juga Dana Tambahan Infrastruktur," ungkap dia di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, kemarin.

Dia menjelaskan, untuk kawasan tersebut pemerintah sudah menganggarkannya di tahun 2017 sebesar Rp 81,7 triliun yang terdiri dari Papua dan Papua barat Rp 59,5 triliun dan Maluku dan Maluku Utara Rp 22,2 triliun. Anggaran tersebut lebih besar dibanding pembangunan untuk Sulawesi dan Kalimantan.

"Padahal anggaran di Indonesia Timur, dananya lebih besar ketimbang di Sulawesi maupun Kalimantan. Kalimantan hanya Rp 77,7 triliun. Apalagi dibanding NTT NTB dan Bali," kata dia.

Persoalan utama mengapa dana besar tapi kemiskinan tidak turun drastis karena efektivitas dan kapasitas SDM belum sebaik yang ada di kawasan Sumatera dan Jawa.

Menanggapi data ini, netizen terbelah. Ada yang percaya dan memuji pemerintah. Namun, ada pula yang heran dan ragu jika melihat kenyataan di lapangan. Akun @RustamIbrahim memuji kinerja pemerintah. "Jadi kinerja Pemerintah @jokowi apalagi yang akan mereka dustakan?" kicau dia senada dengan @Jacobusytanjung yang heran dengan para penyinyir yang sering menyingung pemerintah. "Ini lo salah satu hasil dari hutang juga. Sehingga bisa memperbaiki taraf hidup rakyat miskin," katanya.

Sedangkan @abualiflillah berharap Presiden Jokowi di sisa waktu kepemimpinannya semakin berhasil. "Assalamualaikum Pak Presiden @jokowi terimakasih atas kerja keras bapak dan kabinet yang bapak pimpin. Semoga sisa dua tahun pemerintahan ini bisa terus menurunkan jumlah dan prosentase penduduk miskin dan negara," ujarnya.

Akun @leolegung menyindir. "Itu pakai hitung-hitungan penghasilan Rp 11 ribu perhari ya? Mhanthab Jhiwaaa," kicaunya. Akun @MontirNdeso menimpali. "Turun temurun maksudnya min?" cuit dia, disamber @Hiijrahhati. "Turun menjadi sangat miskin atau gimana. Yakin tuh data?". Akun @ AngkuKayo membalas. "Ah yang benar. Bossss."  ***


Komentar Pembaca
Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

, 22 JUNI 2018 , 11:00:00

Rachmawati: Ada Deal Politik Di SP3 Kasus Sukma
Foto Skuad Cendana

Foto Skuad Cendana

, 15 JUNI 2018 , 18:53:00

Selamat Lebaran Dari Sudrajat

Selamat Lebaran Dari Sudrajat

, 15 JUNI 2018 , 13:04:00

Kebersamaan Di Hari Raya

Kebersamaan Di Hari Raya

, 15 JUNI 2018 , 08:43:00