Hanura

1998 Krisis, 2008 Krisis, 2018 Krisis?

 KAMIS, 04 JANUARI 2018 , 09:10:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

1998 Krisis, 2008 Krisis, 2018 Krisis?

Foto/Net

RMOL. Ada kekhawatiran terjadi siklus krisis 10 tahunan setelah resesi melumpuhkan sebagian besar dunia pada 1998 dan krisis ekonomi 2008. Apakah siklus itu akan terulang di tahun ini?
Tahun ini bisa disebut tahun politik. Ada pilkada serentak di 17 provinsi dan 153 kabupaten/kota. Artinya, potensi masalah keamanan itu ada. Belum lagi, tahun depan ada pemilu legislatif dan pilpres yang juga digelar serentak. Politik bisa menggoyang ekonomi.

Bagaiamana ekonomi kita di awal tahun ini? Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo justru memberikan kabar gembira. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat justru semakin membaik.

Acuannya adalah, data kurs tengah BI, nilai tukar rupiah menguat menjadi Rp 13.490 per dolar AS pada Rabu (3/1), setelah betah bertengger di kisaran 13.500-an sejak pertengahan Oktober 2017 lalu. Sontak, hal ini membuat Agus percaya diri lantaran ditopang pertumbuhan ekonomi. "Saya melihat bahwa (ini) faktor confident (kepercayaan diri) terhadap ekonomi domestik banyak berperan," kata Agus di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, kemarin.

Menurutnya, tren positif juga terlihat dari faktor eksternal. Baginya, risiko eksternal dinilainya tidak banyak berubah, dari mulai kenaikan suku bunga hingga pemangkasan pajak di AS. "Kondisi di luar negeri ini kurang lebih tidak terlalu berubah," ucapnya.

Agus mengatakan penguatan ekonomi domestik tersebut terlihat dari dana asing ke pasar modal yang meningkat sehingga mempengaruhi ketersediaan valuta asing. "Rupiah menguat secara umum karena ekonomi nasional dalam kondisi baik, meski terdapat risiko dari kondisi di luar negeri," katanya.

Sebelumnya, Agus menyebut aliran investasi asing ke pasar keuangan domestik mencapai Rp 138 triliun sepanjang 2017. Jumlah tersebut meningkat Rp 12 triliun dibandingkan dengan 2016 lalu yang sebesar Rp 126 triliun. Alhasil, kinerja pasar modal domestik sepanjang 2017 juga dinilainya positif, di antaranya tercermin dari lompatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Adapun pada penutupan tahun, IHSG mencetak rekor seiring aksi beli oleh investor asing dan domestik. IHSG pun ditutup naik 2,2% secara mingguan (week on week/wow) atau 19,9% secara tahunan (year on year/yoy) ke level 6355.

Menanggapi ini, pakar ekonomi dari Universitas Islam Indonesia (UII) Prof. Edy Suandi Hamid melihat tahun ini berpotensi ada gejolak politik, tetapi tak akan bikin ekonomi kolaps sampai krisis. Soal ekonomi nasional, Edy yakin ada pertumbuhan sekalipun lambat.

"Saya kok tidak melihat tanda-tanda itu (krisis) namun kita terlalu optimis melihat pemerintah pasang target pertumbuhan ekonomi 2018 sebesar 5,4 persen. Berat mencapai target," ujar Edy kepada Rakyat Merdeka.

Untuk diketahui, isu mengenai siklus krisis ekonomi setiap 10 tahun merujuk pada krisis yang terjadi pada 1998 dan 2008. Penyebab utama krisis 1998 adalah nilai tukar mata uang, terutama di Asia, yang tidak fleksibel, juga tidak ada sinkronisasi terhadap kurs dan capital inflow (arus modal masuk). Sedangkan penyebab krisis 2008 salah satunya akumulasi dari risiko perkembangan teknologi.

Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta ini tidak menampik bahwa tahun politik bisa berpotensi mengganggu keamanan negara. Buktinya, Pilkada Jakarta. Namun, dia menyebut masalah keamanan tidak terlalu berdampak ke ekonomi.

Alasannya, rakyat Indonesia sudah cukup dewasa untuk tidak melakukan tindak kekerasan yang meluas. Buktinya, pilkada Jakarta sekalipun panas tidak terjadi kericuhan. Pun demikian di tahun ini dan tahun depan. Walaupun tidak krisis, Edy beranggapan tahun ini ekonomi kita cenderung biasa-biasa saja. Jika ada peningkatan, itu tidak pesat. "Target tahun ini kok saya ngga yakin bisa terwujud," akunya.

Edy justru menganalisa, jika pemerintah bisa menghandle keamanan di tahun politik, tahun 2018-2019 justru bisa menjadi berkah. Ekonomi bisa tumbuh. Pasalnya, ada dorongan konsumsi jor-joran menjelang pesta demokrasi.

"Negatifnya kalau terjadi kericuhan bisa mengurangi jumlah investasi. Tapi itu kalau kacau balau. Tapi kalau tidak, dorongan konsumsi musiman pemilu bisa membuat pertumbuhan ekonomi," tegasnya.

Soal ekonomi, Edy beranggapan pemerintah belum ada dobrakan yang nyata. Sekalipun, pemerintah telah melakukan pembangunan infrastruktur di sana-sini. Masalahnya, ambisi itu tidak ditopang ekonomi hingga masyarakat itu sendiri. ***


Komentar Pembaca
Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

, 22 JUNI 2018 , 11:00:00

Rachmawati: Ada Deal Politik Di SP3 Kasus Sukma
Foto Skuad Cendana

Foto Skuad Cendana

, 15 JUNI 2018 , 18:53:00

Selamat Lebaran Dari Sudrajat

Selamat Lebaran Dari Sudrajat

, 15 JUNI 2018 , 13:04:00

Kebersamaan Di Hari Raya

Kebersamaan Di Hari Raya

, 15 JUNI 2018 , 08:43:00