Bisnis Ritel Lampu Kuning

Ikuti Jejak Ramayana & Matahari, Lotus Tutup

Ekbis  SELASA, 24 OKTOBER 2017 , 08:44:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Bisnis Ritel Lampu Kuning

Lotus Departement Store/Net

RMOL. Satu per satu ritel memilih untuk menutup tokonya. Setelah Matahari dan Ramayana, kini giliran Lotus Departement Store menutup tokonya yang berlokasi di Jalan MH Thamrin, Cibubur, dan Bekasi. Pengusaha mengungkapkan bisnis ritel sudah lampu kuning.
 Kabar penutupan tiga gerai Lotus itu diamini oleh Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengu­saha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta. "Ya tutup. Saya sudah mendengar dari mana­jemennya. Tapi mereka tidak ada kewajiban melapor pada kita (asosiasi)," ujar Tutum di Jakarta, kemarin.

Tutum tidak menjelaskan lebih jauh alasan penutupan gerai Lotus Departement Store yang dikelola PT Mitra Adiper­kasa Tbk (MAPI) itu. Namun, da memperkirakan karena faktor penjualan yang terus menurun. "Secara umum biasanya karena penjualan kurang," tambahnya.

Menurut dia, efisiensi menjadi kunci utama yang harus dilaku­kan para pemain ritel tahun ini untuk menopang pertumbu­han perusahaan dan industri. Efisiensi memang lagu lama bagi perusahaan ritel. Namun, terbukti ampuh untuk mensta­bilkan pertumbuhan di tengah kelesuan daya beli. "Efisiensi dari ritel tahun ini memang cu­kup ketat," ujarnya.

Dia khawatir, efisiensi tak lagi ampuh bila konsumsi masyarakat terus melemah. Sementara, dari sisi operasional, perusahaan perlu membayar, misalnya sewa tempat, listrik, dan lainnya. "Ka­lau daya beli terus menurun ya akan terus menekan pastinya," kata Tutum.

Tutum pun memprediksi per­tumbuhan industri ritel sampai akhir tahun ini tak memuaskan.

Khususnya untuk kuartal IV ini diperkirakan tak akan set­inggi kuartal II lalu yang lebih baik lantaran ada momentum Lebaran.

Ketua Umum Aprindo Roy N Mande mengatakan, banyaknya pengusaha ritel yang mulai menutup tokonya merupakan peringatan bagi pemerintah jika bisnis ini sudah lampu kuning. Penyebabnya adalah perubahan pola konsumen dan turunnya daya beli masyarakat.

Langkah Lotus menurut gerainya sebelumnya juga su­dah dilakukan oleh ritel modern lainnya. Penurunan daya beli berdampak pada turunnya bisnis sektor ritel.

"Ini kita lihat sebagai alert lagi, kalau saya katakan ini alarm lagi bagi regulator dan pemerintah bahwa bisnis ritel dalam situasi yang belum recov­ery," kata dia.

Roy pun memprediksi, ke­mungkinan besar penyebab dari tutupnya ritel modern seperti Lotus ini adalah soal pendapa­tan yang menurun. Pendapatan yang diterima tidak mampu mengimbangi besarnya biaya operasi yang dikeluarkan oleh pengusaha agar bisnis ritel bisa terus berjalan.

Manajemen PT Mitra Ad­iperkasa Tbk (MAP) selaku pengelola Lotus Departement Store membenarkan adanya penutupan tiga gerai pada akhir bulan Oktober ini. Penutupan dilakukan dengan tujuan restruk­turisasi divisi department store perusahaan.

Director Corporate Commu­nication MAP Fetty Kwartati mengatakan, hal ini dilakukan untuk menumbuhkan kinerja dari seluruh department store yang di bawahi langsung oleh MAP. "Betul tiga gerai Lotus akan tutup, perusahaan melaku­kan restrukturisasi untuk menin­gkatkan overall kinerja depart­ment store," ujarnya.

Sebelumnya, Fetty mengakui, sempat mengatakan jika perusa­haan memang sedang mengkaji kinerja keuangan dari lima de­partment store-nya. Beberapa department store tersebut, yakni tiga gerai Lotus dan dua gerai Debenhams.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengata­kan, sebetulnya saat ini industri ritel sudah dalam perbaikan di mana ada peningkatan penjualan sekitar 5 persen. "Saya tidak bisa bicara secara mikro, tetapi secara umum kita dalam rapat kemarin itu melihat ritel sudah ada perbaikan," ujarnya.

Selain itu, Agus menilai, dari penjualan ritel yang meningkat terutama dari industri otomotif, industri perdagangan hingga restoran. Di industri otomotif dan sepeda motor sudah ada perbaikan tinggi. "Kita juga lihat beberapa industri perdagangan, perhotelan, restoran itu semua menunjukkan kondisi penjualan yang lebih baik," jelasnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Ka­din) Indonesia Rosan P Roeslani mengatakan, bisnis ritel dalam negeri tengah mengalami tan­tangan berat di tahun ini. Bukan lantaran daya beli yang menu­run, melainkan disebabkan oleh kurangnya minat masyarakat untuk berbelanja.

"Orang tidak belanja, duit padahal ada tapi orang tidak belanja. Kita lihat duit di bank naiknya signifikan kok. Penda­patan dari masyarakat relatif sama tetapi mereka lebih ban­yak nyimpen duit dulu," tukas­nya. ***


Komentar Pembaca
Darmin Nasution Ngeles Terus!

Darmin Nasution Ngeles Terus!

, 12 DESEMBER 2017 , 19:00:00

Istri Panglima Hadi Bukan Tionghoa

Istri Panglima Hadi Bukan Tionghoa

, 12 DESEMBER 2017 , 15:00:00

AHY Jadi Saksi Pernikahan Putra Bendahara SMSI
Titiek Bersama Sesepuh Golkar

Titiek Bersama Sesepuh Golkar

, 09 DESEMBER 2017 , 19:33:00

Nekat Terobos Busway

Nekat Terobos Busway

, 10 DESEMBER 2017 , 00:42:00