Optimalkan Peluang Ekonomi Di Hari Raya Kurban

Ekbis  RABU, 23 AGUSTUS 2017 , 05:04:00 WIB | LAPORAN: WAHYU SABDA KUNCAHYO

Optimalkan Peluang Ekonomi Di Hari Raya Kurban

Net

RMOL. Menjelang perayaan Idul Adha 1438 Hijriah, pasar hewan kurban terus dibanjiri permintaan oleh masyarakat.
Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkapkan, terdapat strategi untuk mengoptimalkan peluang ekonomi yang tercipta dari Hari Raya Kurban.

"Menjelang Idul Adha banyak permintaan masyarakat terhadap hewan kurban seperti sapi, kambing atau domba," ujar Dekan Fapet UGM Prof. Ali Agus dalam keterangannya, Rabu (23/8).

Kepala Laboratorium Agrobisnis Peternakan Fapet UGM Dr. Suci Paramitasari Syahlani menjelaskan, saat ini proporsi kelas menengah di Indonesia sedang naik. Indonesia saat ini sudah diperhitungkan sebagai middle income country dengan rata-rata pendapatan pada kisaran Rp 4 juta per bulan. Naiknya proporsi middle class dengan jumlah penduduk muslim yang besar yaitu sekitar 85 persen maka terjadi proporsi moslem middle class, sehingga wajar saat perayaan Idul Adha terjadi kenaikan permintaan hewan kurban.

Suci menilai, saat ini segmen pasar muslim sangat menarik dan terlihat ada pertumbuhan industri halal food, kosmetik halal, dan bank syariah yang menunjukkan peningkatan. Apalagi, jelang Idul Adha, berkurban memang menjadi kewajiban bagi setiap muslim terutama mereka yang sudah mampu, dalam hal ini yang berada pada level middle class.

Strategi yang perlu disiapkan para peternak untuk memanfaatkan peluang pasar menjelang Idul Adha dengan memahami dan menjalankan lima strategi penting. Pertama, diidentifkasi kebutuhan pasar. Konsumen membutuhkan hewan kurban yang memenuhi yang telah ditetapkan, diantaranya poel atau telah berganti sepasang gigi depan/gigi seri, gagah, dan tidak cacat.

Kedua, peternak mempunyai kredibilitas sebagai penyedia hewan kurban yang baik. Hal ini bisa dilakukan dengan menyertakan ahli di bidang tersebut baik yang memiliki pemahaman tentang ternak maupun agama.

"Peternak bisa juga bekerja sama dengan institusi yang relevan, misal fakultas peternakan atau kedokteran hewan sebagai pendamping agar konsumen merasakan kemantapan dalam membeli hewan kurban tersebut," ujar Suci.

Ketiga, menyusun strategi harga yang tepat disesuaikan dengan daya beli segmen pasar yang dituju. Level middle class sendiri cukup lebar range-nya, sehingga perlu disediakan range harga hewan kurban bagi kelompok kelas tersebut. Tidak semuanya cukup mampu untuk membeli hewan kurban yang terbaik di kelasnya. Sebagai contoh bisa disediakan kambing dengan harga mulai harga Rp 2 jutaan dengan tetap memenuhi syarat sebagai hewan kurban.

Keempat, distribusi. Masalah yang dihadapi sekarang adalah waktu dan transportasi, maka harus disiapkan sistem delivery yang bagus untuk pengiriman hewan kurban. Informasi biaya transpor juga memberikan konsumen kemudahan untuk alokasi anggaran dan jika hal ini bisa diidentifikasi lebih awal akan lebih efisien bagi baik bagi penyedia hewan kurban maupun bagi konsumen.

Kelima, promosi. Aktivitas middle class banyak dilakukan melaluismartphone, sehingga manfaatkan hal tersebut untuk bisa mengakses pasar, misal dengan social media marketing, baik melalui Facebook atau Instagram. Media ini memungkin penyedia hewan kurban untuk mengunggah pilihan foto hewan kurban beserta berat badan hewan tersebut.  

"Kadang foto saja tidak cukup. Konsumen bisa jadi khawatir hewan kurban tidak sebesar yang terlihat di foto. Namun, perlu diingat juga bahwa masih ada konsumen yang tidak menggunakan media sosial, sehingga media sosial dalam hal ini merupakan pelengkap dari promosi konvensional," terang Suci.

Saat ini cukup menarik karena ada juga pembelian hewan kurban kolektif dari sekolah yang mengajak siswa untuk membeli hewan kurban sebagai sarana berlatih berkurban. Untuk bisa masuk ke pasar ini perlu strategi berbeda, misal dengan mengajukan proposal yang mampu menunjukkan kredibilitas penyedia hewan kurban.

"Jika bisa kerja sama dengan institusi bisa menjadi peluang besar. Marginnya memang tidak sebesar pasar perorangan tetapi melalui cara ini dapat menjual dalam kuantitas yang lebih banyak," tutup Suci. [wah] 

Komentar Pembaca
Darmin Nasution Ngeles Terus!

Darmin Nasution Ngeles Terus!

, 12 DESEMBER 2017 , 19:00:00

Istri Panglima Hadi Bukan Tionghoa

Istri Panglima Hadi Bukan Tionghoa

, 12 DESEMBER 2017 , 15:00:00

AHY Jadi Saksi Pernikahan Putra Bendahara SMSI
Titiek Bersama Sesepuh Golkar

Titiek Bersama Sesepuh Golkar

, 09 DESEMBER 2017 , 19:33:00

Nekat Terobos Busway

Nekat Terobos Busway

, 10 DESEMBER 2017 , 00:42:00