HIPMI: Utang Garuda Harus Jadi Konsen Pemerintah

Ekbis  KAMIS, 10 AGUSTUS 2017 , 13:38:00 WIB | LAPORAN: WIDYA VICTORIA

RMOL. PT. Garuda Indonesia (Persero) terus merugi dan muncul tanda kebangkrutan bila tidak ada solusi konkret.
Hal ini tercermin dari hasil laporan keuangan Garuda Indonesia yang mencatatkan kerugian sebesar 283,7 juta dolar AS atau sekitar Rp 3,8 triliun. Angka tersebut meningkat hingga 200 persen dari kerugian pada kuartal pertama sekitar 99,0 juta USD atau setara  Rp 1,319 triliun.  

Ketua Bidang Organisasi Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI), Anggawira menyarankan ke depannya harus ada solusi komprehensif agar Garuda tidak terus merugi.

"HIPMI sebelumnya sudah memberikan early warning kepada Garuda Indonesia karena terus merugi. Ke depannya perlu ada solusi yang komprehensif agar maskapai penerbangan kebanggaan kita ini bisa survive. Kerugian tersebut disinyalir akibat peningkatan biaya operasional dan pembelian bahan bakar avtur," ujar Ketua BPP HIPMI Bidang Organisasi, Anggawira dalam keterangannya di Jakarta.

Ongkos operasional penerbangan Garuda Indonesia, disebutkan oleh Anggawira mencapai lebih dari dari Rp 16 triliun lebih tinggi dari kuartal pertama sebesar Rp 8 triliun.

"Hingga saat ini kami melihat biaya bahan bakar merupakan sumber terbesar biaya operasional dengan presentase di atas 50 persen kemudian disusul dengan biaya pembelian pesawat, reparasi, pembayaran asuransi yang semua dihitung menggunakan kurs dolar AS, sementara produk jasa penerbangan domestiknya dijual dengan nilai rupiah," papar Anggawira.

Tingginya ongkos operasional rupanya juga berpengaruh pada utang Garuda Indonesia yang nilainya cukup besar. Untuk utang jangka pendek di kuartal kedua total utang mencapai 1,891 juta dolar AS sedangkan utang jangka panjang sebesar 1,163 juta dolar AS. Sementara di kuartal sebelumnya tercatat 1,798 juta dolar AS untuk utang jangka pendek dan 1,174 juta dolar AS untuk hutang jangka panjang.

"Utang yang membelit Garuda Indonesia harus menjadi konsen pemerintah," imbuh Anggawira.

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mencatat kerugian bersih (net loss) selama semester pertama 2017 sebesar 283,8 juta dolar AS. Di luar non-recurring expense, total kerugian bersih perseroan mencapai 138 juta dolar AS.[wid]

Komentar Pembaca
Buni Yani & Lieus Sungkharisma - Menerima Vonis (Part III)
Buni Yani & Lieus Sungkharisma - Harapan (Part II)
AHY Jadi Saksi Pernikahan Putra Bendahara SMSI
Titiek Bersama Sesepuh Golkar

Titiek Bersama Sesepuh Golkar

, 09 DESEMBER 2017 , 19:33:00

Jabat Tangan Panglima

Jabat Tangan Panglima

, 08 DESEMBER 2017 , 21:12:00