Berita Politik

Telkom Indonesia
Rita Widyasari

Pemerintah Siapkan Obat Kuat Baru...

Pertumbuhan Ekonomi Stagnan

Ekbis  RABU, 09 AGUSTUS 2017 , 09:35:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pemerintah Siapkan Obat Kuat Baru...

Foto/Net

RMOL. Pertumbuhan ekonomi Kuartal II-2017 yang hanya 5,01 persen mendapat perhatian serius. Pemerintah menyiapkan paket kebijakan ekonomi baru untuk mendongkrak pertumbuhan. Semoga obat kuatnya bikin manjur.
Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan, stagnannya pertumbuhan ekonomi nasional di angka 5,01 persen disebabkan masih ada regulasi investasi yang masih tumpang tindih antara pusat dan daerah, sehingga me­nyulitkan para investor. Akibat­nya, masyarakat dan pengusaha menunda investasinya.

Untuk diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka pertumbuhan ekonomi kuartal II hanya 5,01 persen. Angka ini sama dengan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2017.

"Saya kira sifat menunggu dari masyarakat, dari pengusaha. Karena kalau kita lihat tabungan likuiditas perbankan cukup baik dan juga keinginan investasi cukup dan mungkin karena melihat kondisi juga dunia, kon­disi nasional, maka banyak yang menunda investasi," kata JK di Jakarta, kemarin.

JK mengakui, tumpang tin­dih aturan di pusat dan daerah dikeluhkan banyak pengusaha dan investor. Karena itu, para menteri diminta untuk mengurai benang kusut regulasi yang ada untuk mendorong percepatan investasi.

"Kita mendorong untuk mem­percepat investasi yang ada, apakah itu investasi pemerintah atau investasi swasta dan juga dari luar," jelasnya.

Menko Perekonomian Darmin Nasution, mengakui adanya per­lambatan daya beli masyarakat bila dibandingkan dengan kon­disi dua tahun yang lalu. Pada kuartal IIdaya beli yang kon­sumsi rumah tangga hanya tum­buh 4,95 persen. "Dibanding dua tahun lalu mungkin sedikit melambat," ujar Darmin.

Perlambatan ini dipengaruhi oleh melambatnya ekonomi se­cara global yang kemudian ber­imbas kepada situasi nasional. Salah satunya harga komoditas yang anjlok, sehingga memukul ekspor Indonesia yang selama ini bergantung pada batu bara dan Crude Palm Oil (CPO).

Banyak masyarakat yang ke­mudian mengalami penurunan penghasilan akibat penurunan ekspor. Maka dari itu daya beli juga tidak bisa setinggi dulu, sekitar 2009 hingga 2012.

Untuk mengantisipasi itu, kata Darmin, pemerintah akan mengeluarkan paket ke-16 da­lam waktu dekat ini. Paket ini disebut-sebut sebagai paket besar yang akan melibatkan se­luruh lapisan pemangku kepentingan. "Ini paket besar. Seluruh kementerian, lembaga, gubernur, bupati, wali kota. Tunggu saja," ujarnya.

Paket terbaru tersebut, kata dia, akan mengatur percepatan investasi mulai dari perizinan hingga penerapan satu model mulai dari pusat hingga ke daerah. Paket ekonomi ini akan dirampungkan dalam seminggu ke depan dan diluncurkan sebe­lum 17 Agustus 2017.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Na­sional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sesuai target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 5,2 persen sepanjang 2017, maka pertumbuhan investasi di semester II perlu tumbuh 5,4 persen.

Namun, ia mengatakan, satu hal yang memberikan harapan untuk peningkatan pertumbuhan ekonomi adalah pertumbuhan investasi. Selain itu, pengaruh investasi di semester dua akan semakin besar. Target tersebut bisa tercapai.

"Konsumsi dijaga angka sta­bil, meskipun ada sedikit per­lambatan tapi kami melihat masih bisa upaya-upaya untuk mendorong konsumsi kembali ke 5 persen," tuturnya.

Pelaku Pasar Kecewa

Kepala Riset MNC Sekuritas Edwin Sebayang mengatakan, pelaku pasar kecewa dengan per­tumbuhan ekonomi yang stag­nan. Seharusnya dengan adanya Lebaran, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa lebih baik.

Pelaku pasar sebenarnya ber­harap pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2017 berada di level 5,08-5,1 persen. Dengan be­gitu, masih ada kesempatan untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan pemerin­tah tahun ini sebesar 5,2 persen.

Kekecewaan pelaku pasar juga tercermin dari keluarnya dana asing di pasar saham. Pada Senin (7/8) investor asing melakukan aksi jual dengan catatan net sell Rp 347 miliar. "Enggak heran asing keluar hampir sekitar Rp 23 triliun selama 2 setengah bulan," tambah Edwin.

Sedangkan Kepala Riset Reli­ance Securities Robertus Yanuar Hardy memandang, bukan hanya konsumsi rumah tangga yang memprihatinkan, tapi juga kon­sumsi pemerintah yang justru minus 1,93 persen. Padahal di kuartal I-2017 tumbuh 2,68 persen. ***

Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Bendera RI Dilecehkan, Dubes Rusdi Diam Saja?
OTT Di PN Jaksel

OTT Di PN Jaksel

, 21 AGUSTUS 2017 , 15:00:00

Duet Putra SBY

Duet Putra SBY

, 19 AGUSTUS 2017 , 19:44:00

Panjat Pinang Kemerdekaan

Panjat Pinang Kemerdekaan

, 19 AGUSTUS 2017 , 03:37:00

Memeriksa Tubuh Pelaku

Memeriksa Tubuh Pelaku

, 19 AGUSTUS 2017 , 20:31:00