Berita Politik

Telkom Indonesia
Ramadhan

Jokowi Diminta Evaluasi Permen 12/2017

Ekbis  SENIN, 17 APRIL 2017 , 09:27:00 WIB | LAPORAN: WIDYA VICTORIA

Jokowi Diminta Evaluasi Permen 12/2017

Ilustrasi/Net

RMOL. Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) kembali mendesak pemerintah untuk mengevaluasi kebijakan mengenai harga listrik dari energi terbarukan.
Kebijakan baru ini dinilai kontra produktif dengan pengembangan energi terbarukan.

Menurut Ketua Umum METI, Surya Darma, pemerintah harus menetapkan kebijakan yang bersifat jangka panjang dan dapat memberikan kepastian bagi investor atau pengembang energi terbarukan. Apalagi, pengembangan energi terbarukan butuh waktu panjang. Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) memerlukan waktu enam tahun, sedangkan pengembangan panas bumi memerlukan waktu 7-9 tahun mulai dari fase eksplorasi hingga mulai beroperasi

"Pemerintah harus menetapkan kebijakan yang bersifat jangka panjang yang dapat memberikan kepastian bagi pengembang," ujar Surya Darma dalam keterangannya.

Surya Darma mengingatkan, pembatasan tarif sebesar 85 persen BPP juga pernah diberlakukan terhadap listrik panas bumi. Ketika itu, melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 14 Tahun 2008 tentang Harga Patokan Penjualan Listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi. Namun, aturan ini tidak bisa diterapkan hingga akhirnya diganti dengan kebijakan baru.

Kini, dalam peraturan baru, pemerintah menetapkan patokan harga maksimal untuk listrik bukan hanya dari panas bumi, melainkan juga dari tenaga matahari, angin, air, biomassa, biogas, dan sampah. Kondisi seperti itu, kata dia, membuat para investor prihatin.

Selain kondisi yang berbeda antara satu daerah dan daerah lain, besaran BPP akan selalu berubah dari waktu ke waktu. Sedangkan, proses pengembangan energi terbarukan tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat.

"Kami sudah mengirimkan surat kepada Menteri ESDM Ignasius Jonan untuk mengevaluasi Permen No.12/2017," paparnya.

Langkah METI ini mendapat dukungan dari Kamar Dagang Indonesia (KADIN). Malahan, KADIN juga telah menyurati Presiden Joko Widodo untuk meninjau kembali Permen ESDM No. 12/2017.

Dalam suratnya, Ketua Umum KADIN, Rosan P. Roeslani menyatakan kebijakan ini juga membuat iklim investasi di Indonesia semakin tidak kondusif setelah sektor-sektor lainnya juga mengalami kelesuan.

"KADIN telah menerima keluhan dari asosiasi-asosiasi usaha di bidang energi terbarukan yang menyatakan bahwa para pelaku usaha terpaksa menghentikan kegiatan usahanya akibat Biaya Pokok Produksi (BPP) pembangkit listrik yang dipatok terlalu rendah di seluruh wilayah Indonesia," ujar Rosan dalam surat tersebut.

KADIN menegaskan memahami bahwa Permen ESDM tersebut dapat menekan subsidi listrik melalui penurunan BPP Pembangkit listrik. Namun Presiden Jokowi diminta untuk melakukan kajian lebih jauh mengenai pemanfaatan energi terbarukan di daerah terpencil, yang dinilai justru dapat menghemat APBN karena dapat menggantikan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) Diesel yang biaya produksinya jauh lebih mahal dan saat ini masih memproduksi sebesar 2 ribu megawatt (MW).

KADIN melihat adanya potensi investasi sebesar 4 miliar dolar AS untuk pembangunan 4 ribu MW pembangkit listrik dari energi terbarukan. Investasi sebesar itu, menurut KADIN, dapat diperoleh melalui regulasi yang ramah terhadap dunia usaha sehingga menarik bagi investor dan pengembang.[wid]
Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Tempat Ahok Bukan Di Mako Brimob

Tempat Ahok Bukan Di Mako Brimob

, 23 JUNI 2017 , 15:00:00

Pelepasan 4.109 Ekor Tukik

Pelepasan 4.109 Ekor Tukik

, 23 JUNI 2017 , 13:00:00

Gubernur Bengkulu Tiba Di KPK

Gubernur Bengkulu Tiba Di KPK

, 21 JUNI 2017 , 02:48:00

Antisipasi Penyebaran ISIS

Antisipasi Penyebaran ISIS

, 21 JUNI 2017 , 02:57:00

Serahkan Al Quran Braille

Serahkan Al Quran Braille

, 21 JUNI 2017 , 02:03:00