Rakyat Merdeka Online

Home

Share |
Askes Bangun Program Rujuk Balik Puskesmas Buat Penyakit Kronis
Jum'at, 20 Juli 2012 , 08:02:00 WIB

PT ASKES (PERSERO)
  

RMOL.Untuk meningkatkan kualitas pelayanan serta efisiensi biaya pelayanan kesehatan bagi pen­de­rita penyakit kronis, pemerintah melalui PT Askes (persero) mem­ba­ngun pelayanan Rujuk Balik (RB) dan Sistem Penanggu­la­ngan Gawat Darurat Terpadu Se­hari-hari (SPGDTS) di Puskesmas.

Direktur Utama PT Askes I Gede Subawa mengatakan, pela­yanan ini sangat penting dila­ku­kan untuk membantu para pen­derita penyakit kronis, seperti diabetes, hipertensi, asma dan tuberculosis mendapatkan pela­yanan kesehatan dengan cepat dan efisien.

“Program ini ditujukan bagi pe­serta Askes untuk penyakit dia­betes melitus, hipertensi, asma, dan tuberkulosis, bagi pen­derita yang sudah stabil na­mun masih membutuhkan pe­ngo­batan mau­pun asuhan ke­perawatan dalam jangka pan­jang,” kata Gede da­lam acara pe­luncuran program rujuk balik (RB) dan SPGDTS di Bandung, Jawa Barat, Rabu (11/7).

Menurut data Askes tahun 2011, penderita diabetes tipe dua sebanyak 250.000 peserta se­dang­kan hipertensi sebanyak 50.000 peserta. “Nah diharapkan dengan pela­yanan baru ini, pen­derita penyakit kronis  tidak harus datang ke ru­mah sakit hanya un­tuk me­nebus obat lagi, tapi bisa ke puskesmas dan dok­ter umum,” jelas Gede.

Menurutnya, lewat layanan baru ini, pasien yang sudah di­obati oleh dokter spesialis dan kon­disinya sudah stabil, bisa di-treatment di tingkat pelayanan primer di dokter keluarga atau puskesmas. “Selama ini dokter umum yang menerima rujuk ba­lik tetap men-treatment pasien­nya yang men­derita penyakit kronis se­perti diabetes melitus dan hiper­tensi,” katanya.

Oleh dokter umum selanjutnya pasien akan dimonitor kondisinya dan dokter mempunyai catatan medik. Dengan layanan tersebut, kondisi dan perkembangan pa­sien benar-benar dipantau sampai sembuh atau tetap sehat agar kua­litas hidupnya tetap baik.

“Nantinya dokter keluarga dan dokter Puskesmas dapat menulis resep obat berdasarkan rujuk ba­lik dokter spesialis,” paparnya.

Askes juga telah membuat Pro­gram Pengelolaan Penyakit Dia­betes Melitus (PPDM) dan Pe­nge­lolaan Penyakit Hipertensi (PPHT) yang akan ditempatkan pa­da la­yanan dokter keluarga, dan Pus­kesmas di seluruh In­donesia.

“Sebanyak 885 dokter keluarga telah mengikuti pelatihan. Tahun ini, sekitar 1.700 dokter akan me­ngikuti latihan. Targetnya ada sekitar 2.500 dokter terlatih yang sudah memiliki kompetensi yang siap bekerja,” ungkap I Gede.

Wakil Menteri Kesehatan Ali Gufron Mukti berharap, la­yanan baru ini dapat menekan angka ke­matian bagi penderita penyakit kronis. Keber­hasilan ini juga harus didukung oleh persiapan infra­struktur yang baik, mulai tenaga medis yang handal dan peralatan kesehatan lainnya.

“Yang terpenting program ini harus dibarengi dengan koor­di­nasi yang baik dan kesiap-siagaan semua komponen karena 80 per­sen keberhasilan tenaga ke­se­hatan dibantu oleh komitmen te­naga kesehatan,” katanya.  [Harian Rakyat Merdeka]



Baca juga:
Ngeri, Malas Sikat Gigi Bisa Terserang Jantung
Wuih, 72 Persen Orang Indonesia Giginya Berlubang...
Ibu Hamil Positif HIV/AIDS Kerap Telat Minum Obat ARV
Perpanjang Harapan Hidup Penderita HIV/AIDS
PKS: Kemenkes Perlu Menyusun Road Map Alokasi Anggaran Lima Persen


Komentar Pembaca
blitz.rmol.co
 

Rani Mukerji dan Aditya Chopra Gelar Pernikahan di Pedesaan Italia

Aktris Bollywood yang terkenal karena film Kuch Kuch Hota Hai, Rani Mukerj ...

 

Nikita Mirzani, Gugat Cerai Sebelum Dibui

Pengadilan terima saja berapa kali Nikita mengajukan gugatan cerai. Toh, n ...

 

Olla Ramlan, Trauma Kasus JIS, Anak Sekolah Berbasis Agama

Olla Ramlan tidak memilih sekolah internasional bagi anak semata wayangnya ...

 

Farah Quinn, Cerai, Cuekin Foto Hot Olive Lee

Nggak pusing ada foto-foto mesra suaminya. Yang diinginkan hanya hak asuh ...






  • Berita Populer

    Obral Dividen 25 Triliun Di AS, Freeport Cuekin Pemerintah RI
    Tiga Bulan Ke Depan Masa-masa Krusial Bagi Perekonomian Nasional
    KNKP: Propaganda Anti Tembakau Tak Berdasar Kebenaran