Gawat, Penyalahgunaan BBM Subsidi Semakin Merajalela

Menteri Darwin Minta Pengendalian Lebih Tertata

Ekbis  JUM'AT, 01 APRIL 2011 , 06:43:00 WIB

Gawat, Penyalahgunaan BBM Subsidi Semakin Merajalela
RMOL. Kebijakan pembatasan BBM subsidi April ini memang ditunda. Namun, jumlah penyalahgunaan BBM subsidi sepanjang 2011 semakin naik dan merajalela.

“Sepanjang 2010 telah ditindak 161 kasus penyelewengan BBM dengan 220 tersangka dan 187 ribu liter BBM yang disita,” te­rang Darwin di Jakarta, kemarin.

Menurut Darwin, kasus pe­nyelewengan BBM subsidi pa­ling banyak di 2008 dengan 1.352 kasus dengan 1.923 tersangka. Jum­lah BBM subsidi yang dise­le­wengkan mencapai 857,3 ribu liter.

Meskipun rencana pembatasan konsumsi BBM subsidi batal dilakukan 1 April 2011, kata Dar­win, pemerintah akan te­tap mem­perketat pengendalian kon­sumsi BBM subsidi melalui Perta­mina, BPH Migas dan kepolisian.

“Kali ini pengendalian diminta lebih tertata. Targetnya supaya kuota tidak lebih 38,5 juta kilo­liter,” urai Darwin.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengaku, pemerintah akan menerapkan pembatasan BBM bersubsidi jika semuanya sudah siap. “Pada saatnya nanti kita me­mang akan menerapkan pem­batasan,” kata Hatta di sela-sela acara perayaan 100 tahun sawit di Medan.

Menurut Hatta, jika pem­ba­tasan tetap dilaksanakan, se­mentara masyarakat masih bisa membeli BBM bersubsidi meng­gunakan dirijen, tentu kebijakan itu tidak akan maksimal.

“Persiapan dan penga­wasan­nya harus disiapkan dengan baik agar BBM subsidi diterima oleh yang berhak,” ucapnya.

Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina Djaelani Sutomo menjelaskan, meskipun ke­pu­tusan pembatasan BBM ber­subsidi ditunda, pihaknya tetap akan melakukan persiapan.

Menurut Djaelani, 72,7 persen Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di pulau Jawa su­dah men­jual pertamax. “Dari 3.037 SPBU yang ada di seluruh Jawa, saat ini sudah ada 1.758 yang menjual pertamax,” katanya.

Dia mengatakan, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi peng­gunaan BBM bersubsidi. Salah satunya menyebar span­duk di SPBU agar masyarakat mampu sadar tak memakai BBM subsidi.

Pengamat energi Mamit Setia­wan berpendapat, pemerintah t­i­dak perlu melakukan pem­bata­san jika berhasil meng­hi­langkan pe­nyelun­dupan BBM bersubsidi.

“Saat ini penyelundupan BBM sangat tinggi dan banyak digu­nakan untuk industri, apalagi di daerah,” ujar Mamit.

Mamit mengatakan, seharus­nya pemerintah jangan hanya tinggal diam menghadapi penye­lun­dupan BBM subsidi. “Harus ada kerja keras dan memberikan sanksi tegas kepada para penye­lundup. Apa­lagi saat ini harga minyak sedang tinggi, sehingga tingkat pe­nyelundupan di­pre­dik­si meningkat,” cetusnya.    [RM]


Komentar Pembaca
Darmin Nasution Ngeles Terus!

Darmin Nasution Ngeles Terus!

, 12 DESEMBER 2017 , 19:00:00

Istri Panglima Hadi Bukan Tionghoa

Istri Panglima Hadi Bukan Tionghoa

, 12 DESEMBER 2017 , 15:00:00

AHY Jadi Saksi Pernikahan Putra Bendahara SMSI
Titiek Bersama Sesepuh Golkar

Titiek Bersama Sesepuh Golkar

, 09 DESEMBER 2017 , 19:33:00

Nekat Terobos Busway

Nekat Terobos Busway

, 10 DESEMBER 2017 , 00:42:00